Tampilkan postingan dengan label Dongeng Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dongeng Jawa. Tampilkan semua postingan

Kisah Panglima To Dilaling


Alkisah, di sebuah bukit yang bernama Napo di daerah Tammajarra, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Balanipa yang dipimpin oleh Raja Balanipa. Sudah tiga puluh tahun sang Raja berkuasa, namun tidak mau turun dari tahtanya. Ia ingin berkuasa sepanjang masa. Untuk itu, ia senantiasa menjaga kesehatan badannya dengan cara berolahraga secara teratur, berburu, minum jamu dan obat ramuan tabib terkenal agar tetap awet muda dan panjang umur.

Raja Balanipa memiliki empat orang anak, dua putra dan dua putri. Akan tetapi, kedua putranya sudah dibunuhnya, karena ia tidak mau mewariskan tahtanya kepada mereka. Sementara sang Permaisuri selalu merasa cemas jika sedang mengandung. Jangan-jangan anak yang dikandungnya itu seorang bayi laki-laki. Ia sudah tidak kuat lagi melihat anaknya dibunuh oleh suaminya sendiri. Ia pun selalu berdoa kepada Tuhan, agar anak yang dikandungnya kelak adalah bayi perempuan.

Pada suatu waktu, sang Permaisuri sedang hamil besar. Ketika itu, Raja Balanipa hendak pergi berburu di daerah Mosso. Sebelum berangkat, sang Raja berpesan kepada panglima perangnya yang bernama Puang Mosso.

”Puang Mosso! Tolong jaga Permaisuriku yang sedang hamil besar itu! Jika aku belum kembali dan ia melahirkan anak laki-laki, maka bunuhlah anak itu!” titah Raja Balanipa.

”Baik, Baginda! Segala perintah Baginda pasti hamba laksanakan,” jawab Puang Mosso sambil memberi hormat.

Setelah itu, berangkatlah Raja Balanipa ke Mosso. Keesokan harinya, sang Permaisuri pun melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan. Namun anehnya, lidah bayi itu berwarna hitam dan berbulu.

Mengetahui permaisuri melahirkan, anjing pengawal raja segera menjilati kain bekas persalinan, sehingga meninggalkan darah di moncongnya. Kemudian anjing itu segera mencari sang Raja yang sedang berburu di daerah Mosso. Setelah menemukan tuannya, anjing itu terus menggonggong untuk memperlihatkan darah di moncongnya. Sang Raja yang mengerti jika permaisurinya telah melahirkan segera kembali ke istana.

Sementara itu, Puang Mosso sedang dilanda kebingungan setelah mengetahui sang Permaisuri melahirkan bayi laki-laki. Ia merasa kasihan dan tidak tega membunuh bayi itu. Sesaat ia berpikir keras untuk mencari cara agar sang Raja tidak murka dan bayi laki-laki itu tetap hidup.

”Mmm, aku tahu caranya. Aku akan menyembelih seekor kambing dan aku kuburkan, lalu membuatkan nisan di atas kuburannya, sehingga sang Raja akan mengira bahwa isi kuburan itu adalah putranya,” pikir Puang Mosso lalu segera melaksanakan niatnya itu.

Oleh karena khawatir rahasianya diketahui sang Raja, Puang Mosso menitipkan bayi itu kepada keluarganya yang tinggal di sebuah kampung yang berada jauh dari istana.

Keesokan harinya, Raja Balanipa kembali dari berburu dan langsung menemui Puang Mosso.

”Bagaimana keadaan Permaisuri? Apakah ia sudah melahirkan?” tanya sang Raja.

”Ampun, Baginda! Sehari setelah Baginda berangkat, Permaisuri melahirkan seorang bayi laki-laki. Sesuai dengan pesan Baginda, hamba sudah menyembelih dan menguburkan bayi itu,” jelas Puang Mosso.

“Di mana kamu kuburkan?” tanya sang Raja.

”Ampun, Baginda! Hamba menguburnya di samping kuburan putra Baginda yang lainnya,” jawab Puang Mosso.

Raja Balanipa belum yakin jika belum melihat langsung kuburan itu. Ia pun segera ke tempat perkuburan keluarga istana, dan tampaklah sebuah kuburan kecil yang masih baru. Sang Raja pun percaya bahwa bayi laki-lakinya sudah mati. Ia pun kembali menjalankan tugasnya sebagai raja dengan perasaan tenang, karena pewaris tahtanya sudah tidak ada lagi.

Waktu terus berjalan. Putra raja yang tinggal di sebuah kampung sudah besar. Dia sudah lancar berbicara dan mengenal orang-orang di sekelilingnya. Ia juga sangat akrab dengan Puang Mosso, karena hampir setiap minggu Puang Mosso membesuknya secara diam-diam. Oleh karena khawatir rahasianya diketahui oleh sang Raja, Puang Mosso menitipkan anak itu kepada seorang pedagang yang akan berlayar menuju Pulau Salemo[1] yang berada jauh dari bukit Napo.

Di Pulau Salemo, putra raja itu tumbuh menjadi anak yang sehat. Ia diasuh dan dididik oleh keluarga pedagang yang membawanya ke tempat itu. Ia sangat tekun bekerja dan mahir memanjat pohon kelapa.

Pada suatu hari, ketika ia sedang memanjat pohon kelapa, tiba-tiba seekor burung rajawali raksasa menyambarnya, lalu membawanya terbang ke tempat yang jauh. Ketika sampai di daerah Gowa,[2] anak itu terlepas dari cengkeraman rajawali raksasa sehingga terjatuh di tengah sawah dan ditemukan oleh seorang petani. Si petani pun segera melaporkan hal itu kepada Raja Gowa, Tumaparissi Kalonna.

”Ampun, Baginda! Hamba menemukan seorang anak laki-laki berbaju merah di tengah sawah yang terlepas dari cengkeraman seekor burung rajawali raksasa.”

”Di mana anak itu sekarang?” tanya Raja Gowa.

”Ada di rumah hamba, Baginda!” jawab petani itu.

“Pak Tani! Bawa anak itu kemari, aku ingin melihatnya!” titah Raja Gowa.

Mendengar perintah sang Raja, petani itu segera menjemput anak itu di rumahnya. Beberapa lama kemudian, petani itu sudah kembali ke istana bersama dengan anak itu. Ketika sang Raja melihat dan mengamati anak itu, ia langsung tertarik melihat tubuh anak itu.

“Waaah, kekar sekali tubuh anak ini! Jika anak ini aku rawat dan didik dengan baik, kelak ia akan menjadi pemuda yang gagah perkasa,” pikir Raja Gowa.

“Hei, anak kecil! Kamu siapa dan dari mana asalmu?” tanya Raja Gowa.

Putra Raja Balanipa itu menceritakan asal-usulnya hingga ia dapat sampai di tempat itu. Sang Raja menjadi terharu mendengar cerita anak itu. Akhirnya, Raja Gowa merawat dan mendidiknya hingga menjadi pemuda gagah perkasa dan sakti. Kemudian ia mengangkatnya menjadi panglima perang (tobarani) Kerajaan Gowa. Sejak putra Raja Balanipa itu menjadi panglima perang, pasukan Kerajaan Gowa selalu menang dalam peperangan. Panglima perang Kerajaan Gowa itu pun terkenal hingga ke berbagai negeri. Raja Gowa kemudian memberinya gelar I Manyambungi.

Sementara itu, di Kerajaan Balanipa, kondisi keamanan sedang kacau-balau. Rupanya Raja Balanipa yang merupakan ayah kandung Panglima I Manyambungi telah wafat dan digantikan oleh Raja Lego yang terkenal sakti. Raja tersebut sangat kejam dan bengis. Ia suka menganiaya rakyat, baik yang berada di wilayah kekuasaannya maupun yang berada di negeri sekitarnya, yaitu negeri Samsundu, Mosso dan Todang-Todang.[3] Hal itu membuat raja-raja negeri bawahannya menjadi resah dan benci kepadanya. Untuk mengatasi hal itu, mereka pun mengadakan musyawarah untuk mencari cara menyingkirkan Raja Lego.

”Bagaimana caranya menyingkirkan Raja Lego yang kejam itu?” tanya salah seorang raja.

”Saya mendengar kabar bahwa Kerajaan Gowa memiliki seorang panglima perang yang sakti bernama I Manyambungi. Barangkali kita dapat meminta bantuannya untuk melawan Raja Lego,” jawab seorang raja yang lain.

Para raja negeri bawahan itu pun bersepakat untuk mengundang Panglima I Manyambungi. Maka diutuslah beberapa perwakilan dari kerajaan-kerajaan bawahan ke Kerajaan Gowa. Sesampainya di Gowa, mereka pun segera menemui panglima sakti itu dan mengutarakan maksud kedatangan mereka.

”Maaf, Tuan! Kami adalah utusan dari kerajaan-kerajaan kecil di daerah Polewali Mandar. Maksud kedatangan kami adalah ingin meminta bantuan Tuan untuk melawan Raja Lego,” lapor seorang utusan.

”Siapa Raja Lego itu?” tanya I Manyambungi.

”Dia adalah penguasa Kerajaan Balanipa yang menggantikan Raja Balanipa. Ia sangat kejam, suka menganiaya rakyat kami yang tidak berdosa,” jelas salah seorang utusan.

I Manyambungi sangat terkejut saat mendengar jawaban itu. Ia jadi teringat dengan ayah dan keluarganya yang pernah diceritakan oleh Puang Mosso kepadanya semasa ia masih kecil.

”Bagaimana dengan Raja Balanipa dan keluarga istana lainnya?” tanya I Manyambungi penasaran.

”Raja Balanipa dan permaisurinya telah wafat. Sementara beberapa keluarga istana lainnya sedang mengungsi ke daerah Mosso.” jelas utusan itu.

”Bagaimana dengan Panglima Puang Mosso? Apakah ia masih hidup?” tanya I Manyambungi.

”Iya, Tuan! Dia masih hidup. Bahkan dialah yang telah menyelamatkan sebagian keluarga istana. Bagaimana Tuan dapat mengenal Puang Mosso?” tanya salah seorang utusan heran.

Panglima I Manyambungi pun menceritakan perihal asal-usulnya. Para utusan dari Mandar itu pun terkejut dan segera memberi hormat.

”Ampun, Tuan! Sungguh kami tidak mengetahui jika Tuan adalah putra Raja Balanipa,” kata utusan serentak.

”Baiklah! Aku akan memenuhi permintaan kalian, tapi dengan syarat Puang Mosso yang harus datang sendiri menjemputku,” pesan Panglima I Manyambungi.

”Baik, Tuan! Kami akan menyampaikan berita ini kepada Puang Mosso” jawab para utusan seraya berpamitan kembali ke Mandar.

Sesampai di Mandar, mereka segera menemui Puang Mosso. Mendengar laporan para utusan itu, Puang Mosso menjadi cemas. Oleh karena penasaran, Puang Mosso berlayar sendiri ke Gowa dengan hati berdebar-debar. Dalam perjalanan, ia selalu bertanya-tanya dalam hati.

”Siapa sebenarnya I Manyambungi itu. Kenapa harus aku yang menjemputnya? Jangan-jangan dia adalah putra Raja Balanipa yang pernah aku titipkan kepada seorang pedagang?”

Sesampainya di Gowa, Puang Mosso segera menghadap Panglima I Manyambungi. Saat berada di hadapan panglima yang sakti itu, hati Puang Mosso semakin berdebar kencang. Lain halnya dengan I Manyambungi yang selalu tersenyum sambil menatap Puang Mosso dengan mata berkaca-kaca. Puang Mosso bukanlah sosok yang asing di mata I Manyambungi.

”Benarkah Anda Puang Mosso?” tanya I Manyambungi.

”Benar, Tuan!” jawab Puang Mosso.

”Maafkan hamba Tuan! Maukah Tuan menjulurkan lidah sebentar?” Puang Mosso balik bertanya kepada I Manyambungi dengan perasaan ragu-ragu.

Ketika melihat lidah I Manyambungi berwarna hitam dan berbulu, maka semakin yakinlah Puang Mosso jika panglima itu adalah putra Raja Balanipa. Tanpa berpikir panjang, Puang Mosso segera memeluknya dengan erat sambil berkata:

”Benar, engkaulah putra Raja Balanipa.”

I Manyambungi pun membalas pelukan Puang Mosso sambil meneteskan air mata, lalu berkata:

”Iya, Puang Mosso! Terima kasih karena engkau telah menyelamatkan nyawaku dan merawatku semasa aku masih kecil.”

”Sudahlah, Tuan! Kita harus segera ke daerah Mandar untuk menyelamatkan warga yang tidak berdosa dan merebut kembali Kerajaan Napo dari tangan Raja Lego yang bengis dan kejam itu,” ujar Puang Mosso.

”Baik, Puang Mosso! Kita berangkat saat tengah malam agar tidak ketahuan oleh Raja Gowa. Jika mengetahui hal ini, beliau pasti akan melarangku pergi,” kata I Manyambungi.

Pada saat tengah malam, Puang Masso dan Panglima I Manyambungi beserta beberapa pengikutnya meninggalkan istana Kerajaan Gowa. Setelah beberapa hari berlayar, kapal mereka pun merapat di pelabuhan Tangnga-tangnga. Semua peralatan perang mereka turunkan dari kapal dan kemudian membawanya ke bukit Napo. Sejak itu, Panglima I Manyambungi dikenal dengan nama Panglima To Dilaling.[4]

Sementara itu, Raja Lego semakin kejam terhadap rakyat yang lemah. Segala keinginannya harus segera dipenuhi. Jika ia menginginkan harta atau pun gadis untuk dikawini, tidak seorang pun yang dapat menghalanginya. Akibatnya, seluruh warga menjadi resah dan semakin benci kepadanya. Maka, pada saat Panglima To Dilaling mengajak para warga untuk memerangi Raja Lego, mereka menyambutnya dengan senang hati dan penuh semangat.

Pada waktu yang telah ditentukan, Panglima To Dilaling beserta seluruh warga menyerbu istana Raja Lego. Pertempuran sengit pun tidak didapat dihindari lagi. Pada mulanya, pasukan Raja Lego dapat mengadakan perlawanan. Namun, karena jumlah mereka lebih sedikit daripada pasukan Panglima To Dilaling, akhirnya mereka pun menyerah.

Sementara itu, Raja Lego yang dihadapi langsung oleh Panglima To Dilaling masih mampu melakukan perlawanan. Keduanya saling mengadu kesaktian. Tidak berapa lama kemudian, Raja Lego akhirnya kalah juga dan mati di ujung badik Panglima To Dilaling. Seluruh warga menyambut kemenangan itu dengan gembira. Akhirnya, Panglima To Dilaling dinobatkan menjadi raja di bukit Napo. Selama masa pemerintahan Panglima To Dilaling, negeri Napo dan sekitarnya menjadi aman, makmur dan sentosa. Hingga kini, makam Panglima To Dilaling dapat disaksikan di bawah sebuah pohon beringin yang rindang yang berada di atas bukit Napo, Polewali Mandar.
http://folktalesnusantara.blogspot.com/2008/12/panglima-to-dilaling.html

Kisah Legenda Aryo Menak


Dikisahkan pada jaman Aryo Menak hidup, pulau Madura masih sangat subur. Hutannya sangat lebat. Ladang-ladang padi menguning.
Aryo Menak adalah seorang pemuda yang sangat gemar mengembara ke tengah hutan. Pada suatu bulan purnama, ketika dia beristirahat dibawah pohon di dekat sebuah danau, dilihatnya cahaya sangat terang berpendar di pinggir danau itu. Perlahan-lahan ia mendekati sumber cahaya tadi. Alangkah terkejutnya, ketika dilihatnya tujuh orang bidadari sedang mandi dan bersenda gurau disana.
Ia sangat  terpesona oleh kecantikan mereka. Timbul keinginannya untuk memiliki seorang diantara mereka. Iapun mengendap-endap, kemudian dengan secepatnya diambil sebuah selendang dari bidadari-bidadari itu.
Tak lama kemudian, para bidadari itu selesai mandi dan bergegas mengambil pakaiannya masing-masing. Merekapun terbang ke istananya di sorga kecuali yang termuda. Bidadari itu tidak dapat terbang tanpa selendangnya. Iapun sedih dan menangis.  
Aryo Menak kemudian mendekatinya. Ia berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Ditanyakannya apa yang terjadi pada bidadari itu. Lalu ia mengatakan: “Ini mungkin sudah kehendak para dewa agar bidadari berdiam di bumi untuk sementara waktu. Janganlah bersedih. Saya akan berjanji menemani dan menghiburmu.”

Bidadari itu rupanya percaya dengan omongan Arya Menak. Iapun tidak menolak ketika Arya Menak menawarkan padanya untuk tinggal di rumah Arya Menak. Selanjutnya Arya Menak melamarnya. Bidadari itupun menerimanya.

Dikisahkan, bahwa bidadari itu masih memiliki kekuatan gaib. Ia dapat memasak sepanci nasi hanya dari sebutir beras. Syaratnya adalah Arya Menak tidak boleh menyaksikannya.
Pada suatu hari, Arya Menak menjadi penasaran. Beras di lumbungnya tidak pernah berkurang meskipun bidadari memasaknya setiap hari. Ketika isterinya tidak ada dirumah, ia mengendap ke dapur dan membuka panci tempat isterinya memasak nasi. Tindakan ini membuat kekuatan gaib isterinya sirna.

Bidadari sangat terkejut mengetahui apa yang terjadi. Mulai saat itu, ia harus memasak beras dari lumbungnya Arya Menak. Lama kelamaan beras itupun makin berkurang. Pada suatu hari, dasar lumbungnya sudah kelihatan. Alangkah terkejutnya bidadari itu ketika dilihatnya tersembul selendangnya yang hilang. Begitu melihat selendang tersebut, timbul keinginannya untuk pulang ke sorga. Pada suatu malam, ia mengenakan kembali semua pakaian sorganya. Tubuhnya menjadi ringan, iapun dapat terbang ke istananya.
Arya Menak menjadi sangat sedih. Karena keingintahuannya, bidadari meninggalkannya. Sejak saat itu ia dan anak keturunannya berpantang untuk memakan nasi

Kisah Mundinglaya Dikusumah


Mundinglaya Dikusumah adalah cerita rakyat dari masyarakat Cerita rakyat tersebut menceritakan kehidupan seorang pangeran yang kemudian diangkat menjadi raja saat Prabu Siliwangi memerintah kerajaan tersebut.

Prabu Silihwangi memiliki dua orang istri yaitu Nyimas Tejamantri dan Nyimas Padmawati yang menjadi permaisuri. Dari Nyimas Tejamantri, Prabu Siliwangi mendapat seorang anak yaitu pangeran Guru Gantangan. Sedangkan dari permaisuri Nyimas Padmawati, raja memperoleh anak yang diberi nama Mundinglaya. Beda umur antara pangeran Guru Gantangan dan pangeran Mundinglaya sangat jauh. Saat pangeran Guru Gantangan ditunjuk jadi bupati di Kutabarang dan sudah menikah, Mundinglaya masih anak-anak.
Karena tidak mempunyai anak, pangeran Guru Gantangan memungut anak dan diberi nama Sunten Jaya. Guru Gantangan juga tertarik untuk merawat Mundinglaya sebagai anaknya. Saat pangeran Guru Gantangan meminta Mundinglaya dari permaisuri Nyimas Padmawati, permaisuri memberikannya karena mengetahui bahwa pangeran Guru Gantangan sangat menyayangi pangeran Mundinglaya.
Saat pangeran Mundinglaya dewasa, pangeran Guru Gantangan lebih menyayangi pangeran Mundinglaya daripada pangeran Sunten Jaya. Hal ini disebabkan perbedaan karakter yang sangat jauh antara pangeran Mundinglaya dan pangeran Sunten Jaya. Pangeran Mundinglaya selain rupawan juga baik budi pekertinya sedangkan keponakannya sifatnya angkuh dan manja. Hal ini sangat membuat iri pangeran Sunten Jaya. Terlebih lagi ibunya juga sangat menyayangi pangeran Mundinglaya.
Hanya saja perhatian istri pangeran Guru Gantangan kepada pangeran Mundinglaya sangat berlebihan sehingga membuat pangeran Guru Gantangan cemburu. Akhirnya pangeran Mundinglaya dijebloskan kedalam penjara oleh saudara tirinya itu dengan alasan bahwa pangeran Mundinglaya mengganggu kehormatan wanita. Keputusan ini menjadikan mayarakat dan bangsawan Pajajaran terpecah dua, ada yang menyetujui dan ada yang menentang keputusan tersebut sehingga mengancam ketentraman kerajaan kearah permusuhan antar saudara.
Pada saat yang gawat ini, terjadi sesuatu yang aneh. Pada suatu malam, permaisuri Nyimas Padmawati bermimpi aneh. Dalam tidurnya, permaisuri melihat tujuh guriang, yaitu mahluk yang tinggal di puncak gunung. Diantara mereka ada yang membawa jimat yang disebut Layang Salaka Domas. Permaisuri mendengar perkataan guriang yang membawa jimat tersebut: “Pajajaran akan tenteram hanya jika seorang kesatria dapat mengambilnya dari Jabaning Langit.”
Segera setelah bangun pada pagi harinya, permaisuri menceritakan mimpi itu kepada raja. Prabu silihwangi sangat tertarik oleh mimpi permaisuri dan segera meminta seluruh rakyat juga bangsawan, termasuk pangeran Guru Gantangan dan pangeran Sunten Jaya, untuk berkumpul di depan halaman istana untuk membahas mimpinya permaisuri. Setelah seluruhnya berkumpul, raja berkata: “Adakah seorang kesatria yang berani pergi ke Jabaning Langit untuk mengambil jimat Layang salaka domas?”
Senyap! Tidak ada suara yang terdengar. Pangeran Sunten Jaya pun tidak mengeluarkan suaranya. Dia takut akan barhadapan dengan Jonggrang Kalapitung, seorang raksasa berbahaya yang selalu menghalangi jalan ke puncak gunung. Setelah beberapa saat, patih Lengser angkat bicara: “Paduka,” dia berkata, “setiap orang telah mendengarkan apa yang disampaikan paduka, kecuali masih ada satu orang yang belum mendengarkannya. Dia berada dalam penjara. Paduka belum menanyainya. Dia adalah pangeran Mundinglaya.” Mendengar ini, raja memerintahkan agar pangeran Mundinglaya dibawa menghadap. Patih Lengser kemudian meminta izin pangeran guru Gantangan untuk melepaskan pangeran Mundinglaya.
Saat pangeran Mundinglaya sudah berada di hadapannya, raja berkata: “Mundinglaya, maukah ananda mengambil jimat layang salaka domas, yang diperlukan untuk mencegah negara dari kehancuran akibat malapetaka?” Karena layang salaka domas penting bagi keselamatan negara, ananda akan pergi mencarinya, ayahanda,” kata pangeran Mundinglaya.
Prabu Silihwangi sangat senang mendengar jawaban ini. Demikian juga masyarakat dan para bangsawan. Bagi pangeran Mundinglaya, tugas ini juga berarti kebebasan jika dia berhasil mendapatkan layang salaka domas. Sementara bagi pangeran Sunten Jaya ini berarti menyingkirkan musuhnya, karena dia yakin bahwa pamannya akan dibunuh oleh Jonggrang Kalapitung. “Kakek,” kata pangeran Sunten Jaya, “dia adalah seorang tahanan, jika kakek membiarkannya pergi sekarang, tidak akan ada jaminan bahwa dia akan kembali.”

“Apa yang cucunda usulkan, Sunten Jaya?”
“Jika dia tidak kembali setelah sebulan, penjarakan kanjeng ibu Padmawati dalam istana.” Masyarakat dan bangsawan kaget mendengar permintaan ini. Prabu Silihwangi berbalik kepada pangeran Mundinglaya: “Bagaimana menurutmu?”
”Ananda akan kembali dalam sebulan dan setuju dengan usulan Sunten Jaya.”
Dalam beberap minggu, pangeran Mundinglaya diajari oleh patih Lengser ilmu perang dan cara menggunakan berbagai senjata sebagai bersiapan untuk menghadapi rintangan yang akan ditemui selama perjalanan ke Jabaning Langit. Kemudian pangeran Mundinglaya meninggalkan Pajajaran. Karena dia tidak pernah keluar dari ibukota tersebut, pangeran Mundinglaya tidak mengetahui jalan ke Jabaning Langit. Dengan berserah diri kepada Tuhan yang Maha Kuasa, sang pangeran pergi melewati berbagai hutan lebat untuk menemukan Jabaning Langit dan bertemu dengan para guriang.

Dalam perjalanan, pangeran Mundinglaya melewati kerajaan kecil Muara Beres (atau Tanjung Barat) yang merupakan bawahan dari Pajajaran. Disana pangeran Mundinglaya bertemu dan jatuh hati dengan putri kerajaan yang bernama Dewi Kania atau Dewi Kinawati. Mereka saling berjanji akan bertemu lagi setelah pangeran Mundinglaya berhasil menjalankan tugas dari Prabu silihwangi untuk memperoleh jimat layang salaka domas.

Pangeran Mundinglaya meneruskan perjalanannya. Tiba-tiba di tengah perjalanan dia dicegat oleh raksasa Janggrang Kalapitung yang berdiri di depannya. “Mengapa kamu memasuki wilayahku? Apakah kamu menyerahkan diri sebagai santapanku?”
“Coba saja kalau bisa!” jawab pangeran Mundinglaya dengan tenang. Jonggrang Kalapitung menubruknya tapi pangeran Mundinglaya berkelit.
Berkali-kali si raksasa menyerang pangeran Mundinlaya, tapi lagi dan lagi jatuh ke tanah sampai akhirnya kehabisan nafas. Dengan kerisnya, pangeran Mundinglaya mengancam musuhnya:
“Katakan dimana Jabaning Langit?”
“Di dalam dirimu.” Berpikiran bahwa si raksasa berbohong, pangeran Mundinglaya menekankan keris lebih dalam ke leher si raksasa. “Jangan berbohong! Di manakah Jabaning Langit?”
“Di dalam hatimu.” Setelah itu, pangeran Mundinglaya melepaskan raksasa tersebut, sambil berkata: “Aku membebaskanmu, tapi jangan ganggu rakyat Pajajaran lagi.” Jonggrang Kalapitung menuruti dan berterima kasih kepada pangeran Mundinglaya dan meninggalkan Pajajaran selamanya.
Ketika dia pergi, pangeran Mundinglaya menemukan suatu tempat untuk beristirahat dan berdoa meminta tolong kepada tuhan yang Maha Esa untuk diberikan jalan. Suatu hari dia merasakan seolah-olah terangkat dari tempatnya dan terbang ke suatu tempat yang sangat terang. Di sana dia diterima oleh tujuh guriang, mahluk-mahluk supranatural yang menjaga Layang Salaka Domas.

Mereka bertanya kepada pangeran Mundinglaya mengapa berani datang ke Jabaning Langit. “Tujuanku datang ke sini adalah untuk mengambil Layang Salaka Domas yang diperlukan oleh negaraku sebagai obat untuk mencegah permusuhan antar saudara. Akan banyak orang menderita dan mati memperebutkan yang tidak jelas.” “Kami menghargaimu, pangeran Mundinglaya, tapi kami tidak dapat memberimu Layang Salaka Domas karena ini bukan untuk manusia. Bagaimana kalau pemberian lain sebagai hadiah untukmu? Misalnya seorang putri cantik atau kesejahteraan, atau kami dapat menjadikanmu manusia tersuci di dunia?”
“Aku tidak memerlukan semua itu, jika rakyat Pajajaran terlibat dalam perang.”
“Kalau begitu, kamu harus merebutnya setelah mengalahkan kami.” Maka terjadilah perkelahian. Karena para guriang sangat kuat, pangeran Mundinglaya terjatuh dan meninggal. Segera setelah itu, muncul mahluk supranatural lainnya, yaitu Nyi Pohaci yang menampakkan diri dan menghidupkan kembali pangeran Mundinglaya. Pangeran Munding Laya bersiap kembali untuk bertempur dengan para guriang.

“Tida perlu ada lagi pertempuran, karena engkau telah menunjukkan sifatmu yang sebenarnya,” kata salah satu dari tujuh guriang, “jujur, tidak tamak. Engkau mempunyai hak untuk membawa Layang Salaka Domas.” Dan dia kemudian memberikannya kepada pangeran Mundinglaya. Pangeran Mundinglaya sangat bergembira dan mengucapkan terima kasih. Dia juga berterima kasih kepada Nyi Pohaci atas bantuannya. Dengan dipandu oleh tujuh guriang yang kemudian menyebut diri mereka sebagai Gumarang Tunggal, pangeran Mundinglaya pergi pulang ke Pajajaran.
Di Pajajaran, pangeran sunten Jaya mengganggu ketentraman permaisuri. Kepada Prabu Silihwangi, pangeran Sunten Jaya mengatakan bahwa permaisuri sebenarnya tidak bermimpi, bahwa dia berdusta untuk membebaskan putranya dari penjara. Dengan demikian, dia membujuk Prabu Silihwangi untuk menghukum mati permaisuri.

Pangeran Sunten Jaya bahkan lebih jauh berniat untuk mengganggu ketentraman Dewi Kinawati di Muara Beres dengan menceritakan bahwa pangeran Mundinglaya telah dibunuh oleh Jonggrang Kalapitung. Tentara digelar untuk mendatangi kerajaan itu. Pada saat yang gawat tersebut, pangeran Mundinglaya beserta ajudannya telah sampai ke Pajajaran. Mereka senang dan berteriak kegirangan. Pangeran Sunten Jaya dan pengikutnya diusir.
Setelah itu. Prabu Silihwangi menobatkan pangeran Mundinglaya sebagai raja Pajajaran menggantikannya dengan gelar Mundinglaya Dikusumah.
Tidak lama setelah itu, Mundinglaya Dikusumah menikahi Dewi Kinawati dan menjadikannya sebagai permaisuri dan Pajajaran menjadi negara yang adil makmur dan aman.

Kisah Raden Ronggo dan Goa Nagabumi


Pada zaman dahulu ada sebuah kerajaan yang sangat besar dan kuat. Kerajaan itu bernama Mataram. Wilayah kekuasaan kerajaan Mataram meliputi seluruh tanah Jawa, bahkan pengaruhnya meluas sampai ke berbagai negeri di seberang lautan. Raja yang bertahta di Kerajaan Mataram itu bergelar Kanjeng Panembahan Senopati. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Mataram dengan pesat berkembang menjadi sebuah kerajaan yang besar.

Sejak sebelum menjadi raja, Kanjeng Panembahan Senopati adalah seorang prajurit yang tangguh dan perkasa. Sikapnya yang satria memperkuat kedudukannya sebagai senopati yang sangat dicintai oleh para bawahannya, dan sangat disegani, baik oleh kawan maupun lawan. Kanjeng Panembahan Senopati terkenal memiliki kesaktian yang luar biasa dan sangat pintar dalam menyusun siasat perang. Itulah sebabnya, maka banyak raja dari negeri lain menyatakan takluk di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram. Kesaktian Kanjeng Panembahan Senopati tidak hanya membuat kerajaan-kerajaan manusia menjadi takut, tetapi juga membuat gentar kerajaan-kerajaan makhluk halus yang ada di Pulau Jawa.


Salah satu dari sekian banyak kerajaan makhluk halus itu ada yang terletak di sekitar Segara Kidul. Kerajaan itu diperintah oleh seorang ratu (raja perempuan) yang bergelar Kanjeng Ratu Kidul. Oleh karena letaknya yang dekat dengan pusat kerajaan Mataram, maka untuk menghindari agar jangan sampai kerajaannya hancur lebur bila bertentangan dengan Kanjeng Panembahan Senopati, maka Kanjeng Ratu Kidul berusaha menggabungkan kerajaannya dengan Kerajaan Mataram.

Suatu saat, ketika Kanjeng Panembahan Senopati sedang mengasingkan diri di pantai selatan, Kanjeng Ratu Kidul menemuinya dengan menyamar menjadi manusia biasa, dalam wujud seorang puteri yang sangat cantik. Melihat kecantikan puteri jelita yang datang menghampiri itu, Kanjeng Panembahan Senopati terpikat hatinya. Singkat cerita, Kanjeng Ratu Kidul lalu diperisteri oleh Kanjeng Panembahan Senopati. Akibat dari perkawinannya dengan Kanjeng Ratu Kidul itu, maka Kerajaan Mataram wilayahnya menjadi sangat luas. Dan, bukan hanya manusia saja, melainkan juga seluruh mahkluk halus di wilayah Pulau Jawa dan sekitarnya menjadi takluk di bawah kekuasaan Kanjeng Panembahan Senopati.

Dari perkawinannya dengan Kanjeng Ratu Kidul, Kanjeng Panembahan Senopati memiliki seorang putera yang dinamakannya Raden Ronggo. Oleh karena ia adalah anak dari dua orang yang sangat sakti, maka Raden Ronggo pun setelah besar, menjadi seorang pemuda yang tampan, dan terkenal sangat sakti. Tak ada seorang pun yang berani membantah kata-kata Raden Ronggo karena kesaktiannya dan juga karena dia adalah putera Kanjeng Panembahan Senopati, raja Mataram.

Makin lama Raden Ronggo menjadi makin sombong, bahkan mulai bertindak sewenang-wenang pada penduduk Mataram. Setiap kemauannya harus tersampaikan. Apabila ada orang yang berusaha membantah atau menghalangi niatnya, dilawannya dengan kekuatan atau kesaktiannya, juga dengan wewenangnya sebagai putera raja. Tidak segan-segan Raden Ronggo menindas, menyiksa, bahkan membunuh siapa saja yang berani menentang atau merintangi maksudnya. Rakyat Mataram pun menjadi resah.

Berita mengenai sikap semena-mena anaknya terhadap rakyat Mataram itu, membuat Kanjeng Panembahan Senopati prihatin. Beliau menyadari kedudukannya sebagai raja, haruslah menjadi pengayom rakyat dan penjamin kesejahteraan hidup rakyat seluruh negerinya. Sangat sedih hati Kanjeng Panembahan Senopati, mengetahui kelakuan puteranya yang ternyata tercela di mata rakyatnya. Seharusnya puteranya bersikap melindungi rakyatnya, tetapi nyatanya malah bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat.

Kanjeng Panembahan Senopati adalah seorang raja yang adil dan bijaksana. Tidak kepalang tanggung baginda memberikan hadiah kepada rakyatnya yang berjasa kepada negara. Dan, tidak segan-segan pula beliau menjatuhkan hukuman kepada siapa saja yang melanggar undang-undang. Namun kali ini ia merasa terpojok. Ternyata puteranya sendiri telah bertindak sebagai warga negara yang melanggar undang-undang. Tidak boleh tidak, ia harus menjatuhkan hukuman yang setimpal kepada puteranya.

Kanjeng Panembahan Senopati menyadari bahwa puteranya sangat sakti. Tak seorang pun dari rakyat dan hambanya mampu mengimbangi kesaktian puteranya itu. Maka dari itu, Kanjeng Panembahan Senopati menentukan sikap untuk tidak akan menyerahkan puteranya kepada pengadilan, sebab tak ada seorang pun dari rakyatnya yang berani bertindak atas diri Raden Ronggo, meskipun berdasarkan putusan pengadilan.

Untuk melaksanakan hukuman atas diri puteranya, Kanjeng Panembahan Senopati lalu memanggil Kanjeng Ratu Kidul, yang bertahta di dasar Segara Kidul. Kepada Kanjeng Ratu Kidul, Kanjeng Panembahan Senopati bersabda: “Puteramu, si Ronggo, ternyata mencemarkan kewibaan keluarga raja, dan tentu saja mencemarkan kewibawaanku sebagai raja. Kalau dia tidak segera disingkirkan, aku khawatir rakyatku makin cemas. Maka dari itu, ambillah dia. Bawalah pulang ke keratonmu.”
“Baiklah kakangmas”, jawab Kanjeng Ratu Kidul.
“Terserah bagaimana caramu menyingkirkan dia dari lingkungan kerajaan Mataram”, sabda baginda.

Setelah mendapat perintah dari Kanjeng Panembahan Senopati, maka Kanjeng Ratu Kidul pun lalu mencari akal untuk mengambil puteranya dari daratan Mataram. Untuk itu, Kanjeng Ratu Kidul mengutus seekor naga yang bertempat tinggal di dasar laut pantai selatan menjemput Raden Ronggo. Namun, naga itu diperintahkan terlebih dahulu untuk memporak-porandakan wilayah perkampungan penduduk yang ada di tepi pantai agar Raden Ronggo terpancing dan berusaha membunuh si naga.

Setelah naga itu naik ke darat, kemudian ia langsung mengganas di wilayah perkampungan penduduk. Naga itu mengganggu ketenteraman penduduk. Ternak-ternak penduduk menjadi mangsa si naga. Orang-orang yang tinggal di sekitar pantai berusaha untuk membunuhnya. Namun hal itu ternyata sia-sia, sebab naga itu sangat sakti. Tak ada seorang pun yang mampu membunuhnya. Makin lama rakyat menjadi makin tintrim (resah, cemas, gelisah, takut). Ulah si naga semakin mengganas. Jumlah ternak yang musnah akibat menjadi mangsa naga itu, makin hari makin bertambah. Penduduk khawatir, jangan-jangan naga itu akhirnya akan memangsa mereka bila jumlah ternak sudah makin menipis.

Warga sekitar pantai kemudian bermusyawarah mencari untuk cara agar si naga dapat segera dimusnahkan. Dalam musyawarah itu, salah seorang diantaranya berkata: “Kalau Raden Ronggo mau bertindak, tentu mampu membunuh naga itu.”
“Ya, ia adalah orang sakti”, sambung yang lain.
“Kalau dia mau, naga itu tentu dapat dibunuhnya,” kata yang lainnya lagi.
“Kalau begitu, sebaiknya kita menghadap padanya”, yang lain mengusulkan.
“Setuju”, lainnya lagi menguatkan. “Kita perlu menghadap Kanjeng Panembahan Senopati, memohon kesediaannya untuk menitahkan Raden Ronggo turun tangan membunuh naga itu.”

Begitulah, Raden Ronggo yang semula dibenci oleh rakyat karena sikapnya yang menindas rakyat dan senantiasa menyiksa rakyat, akhirnya diangkat sebagai pahlawan. Kepada Raden Ronggo, segenap rakyat menumpukan seluruh harapan, untuk membebaskan mereka dari ancaman bencana yang mungkin ditimbulkan oleh naga itu. Setelah Kanjeng Panembahan Senopati mendengarkan permintaan rakyatnya, yang menggantungkan harapannya kepada Raden Ronggo untuk menolong mereka, maka baginda pun lalu memanggil Raden Ronggo untuk menghadap.

“Ronggo, anakku”, kata baginda kepada puteranya setelah Raden Ronggo duduk bersimpuh di hadapannya. “Kau tahu rakyat kita sekarang dalam keadaan cemas karena adanya naga yang mengganggu ketenteraman.”
“Ya, ayahanda”, jawab Raden Ronggo seraya menyembah dengan hormat.
“Dan kau pun tahu, bahwa tak seorang pun dari rakyat kita yang berani menghadapi naga itu,” kata baginda lagi.
“Ya, ayahanda.”
“Sekarang, bagaimanakah sikapmu?”
“Maksud ayahanda?”
“Apakah engkau sampai hati hanya berdiam diri saja, membiarkan rakyat cemas mengkhawatirkan keselamatan hidupnya?”

Raden Ronggo termenung, kepalanya makin merunduk mendengar sabda baginda yang bernada sedih itu.
Selanjutnya bagianda raja berkata lagi: “Kau harus bertindak, anakku.”
“Jadi maksud ayahanda, hamba harus membunuh naga itu?” sembah Raden Ronggo.
“Ya,” kata baginda dengan tegas. “Kau harus turun tangan. Rakyat tahu, bahwa kau memiliki kemampuan luar biasa. Dan rakyat yakin, bahwa hanya kaulah yang mampu membunuh naga itu.”

Raden Ronggo merenung sejenak, lalu sembahnya: “Kalau ayahanda memerintahkan, hamba pun akan melaksanakannya.”
“Bagus!” kata baginda. “Kalau kau mau bertindak membunuh naga itu, berarti tidak sia-sialah harapan rakyat yang ditumpukan ke pundakmu.”
“Atas perintah baginda, hamba akan bertindak”, sembah Raden Ronggo.
“Bagus”, kata baginda. “Demi keselamatan jiwa rakyat dan ketenteraman negara, aku memerintahkan kau membunuh naga itu.”

Setelah memohon restu dari baginda raja untuk menunaikan tugas berat itu, Raden Ronggo lalu mundur dari hadapan ayahandanya dan berangkat menghadapi naga yang mencemaskan hati rakyat itu.

Setelah mengetahui bahwa Raden Ronggo bersedia turun tangan akan membunuh naga itu, maka segenap rakyat lalu bersorak-sorak: “Hidup Raden Ronggo, hidup Raden Ronggo.”

Begitu keluar dari istana, dengan tenangnya Raden Ronggo berjalan, dan orang banyak berduyun-duyun berjalan di belakangnya. Kepada Raden Ronggo, orang banyak itu menunjukkan lokasi naga itu berada, yaitu di suatu goa dekat pemukiman mereka. Sesampai di depan pintu goa, orang banyak yang mengiringi perjalanan Raden Ronggo itu pun berhenti, sedang Raden Ronggo meneruskan masuk ke dalam goa.

Tidak lama setelah Raden Ronggo masuk ke dalam goa, terdengarlah suara dahsyat dari dalam goa. Terjadilah pertempuran hebat antara Raden Ronggo dengan naga yang ganas itu. Kedua-duanya memiliki kesaktian yang luar biasa. Suara gelegar bagai guruh dan guntur yang menyambar-nyambar terdengar dari dalam goa itu. Tiap gelegar suara diiringi oleh goncangan bumi bagai gempa.

Pada akhirnya suara menggelegar dan goncangan bumi bagai gempa itu pun berhenti. Itu menandakan bahwa pertempuran telah berakhir. Dan, ternyata baik Raden Ronggo maupun sang naga, kedua-duanya mati. Selesainya pertempuran dahsyat yang diakhiri dengan kematian kedua belah pihak itu, alam menyambutnya dengan curahan hujan yang sangat lebat. Segenap rakyat berterima kasih terhadap jasa Raden Ronggo, yang telah mengorbankan dirinya demi kelangsungan hidup rakyat.

Goa tempat berlangsungnya pertempuran antara Raden Ronggo dengan naga yang ganas itu, sampai sekarang masih ada dan dikenal dengan nama Goa Nagabumi.

Sumber:
Suwondo, Bambang. 1981. Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Kisah Kyai Cakrajaya Menjadi Sunan Geseng


Pada zaman dahulu, ada seorang wali yang terkenal sangat sakti, namanya ialah Kanjeng Sunan Kalijaga. Dalam usahanya untuk menyiarkan agama Islam, Kanjeng Sunan Kalijaga senantiasa berkelana ke berbagai tempat di seluruh tanah Jawa. Pada suatu hari, perjalanan Kanjeng Sunan Kalijaga sampai di wilayah Bagelen.

Waktu itu, sebagian besar penduduk Bagelen bermatapencaharian sebagai tukang “nderes” (penyadap aren). Saat Kanjeng Sunan Kalijaga tiba di Bagelen, ia menjumpai seseorang yang akan nderes. Orang itu membawa tabung bambu sebagai wadah legen (nira) yang diikatkan pada punggungnya.


Pada saat akan memanjat pohon kelapa, orang itu mengucapkan mantra: “Klonthang-klanthung, wong nderes buntute bumbung” (klontang-klanthung, orang nderes ekornya bumbung).

Mendengar itu, bertanyalah Kanjeng Sunan Kalijaga: “Ki sanak, mengapa waktu akan kamu memanjat mengucapkan kalimat itu?”
“Yang saya ucapkan itu bukan kalimat sembarangan,” jawab yang ditanya. “Kalimat itu mantranya tukang nderes seperti saya ini, bila ingin hasil yang banyak.”
“Caramu itu kurang tepat, ki sanak,” kata Kanjeng Sunan Kalijaga.

Mendengar itu, tukang nderes tersebut nampak tersinggung, lalu katanya: “Ki sanak rupanya belum tahu. Aku ini Kyai Cakrajaya. Semua orang di Bagelen ini tahu siapa aku. Aku menjadi tukang nderes ini sejak kecil. Dan pekerjaan ini adalah warisan dari nenek moyangku. Sejak nenek moyangku dahulu, mantra-mantra tukang nderes ya seperti itu. Mengapa ki sanak mau menggurui aku?”

“Maafkan aku, Kyai Cakrajaya,” kata Kanjeng Sunan Kalijaga. “Bukan maksudku akan menggurui Kyai. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa aku mempunyai mantra yang akan dapat menelorkan hasil lebih banyak lagi.”

“Maksud ki sanak, mantra itu dapat menghasilkan legen lebih banyak lagi?” tanya Kyai Cakrajaya.
“Bukannya menghasilkan legen yang banyak, melainkan meskipun sedikit, tetapi dapat untuk menghidupi seluruh keluarga selama satu tahun,” kata Kanjeng Sunan Kalijaga.
“Omong kosong,” kata Kyai Cakrajaya dengan perasaan jengkel.
“Kalau aku boleh membuktikan, mungkin ki sanak akan mempercayai omonganku,” Kanjeng Sunan Kalijaga menjelaskan.
“Silakan ki sanak membuktikannya,” kata Kyai Cakrajaya.
“Bolehkah aku ikut memasak legen itu?” tanya Kanjeng Sunan.
“Silakan,” jawab Kyai Cakrajaya.
Kanjeng Sunan Kalijaga lalu mengikuti Kyai Cakrajaya pulang. Sesampai di rumah Kyai Cakrajaya, mereka berdua mulai memasak legen, lalu di cetak dengan tempurung kelapa, untuk dijadikan gula. Kanjeng Sunan mencetak satu tangkep, lalu diserahkan kepada Kyai Cakrajaya.

“Kyai, sekarang aku akan melanjutkan perjalanan. Pesanku: gula satu tangkep ini jangan dibuka, sebelum aku keluar dari desa ini.” Setelah berkata demikian, Kanjeng Sunan Kalijaga lalu meninggalkan rumah Kyai Cakrajaya.

Beberapa saat lamanya setelah Kanjeng Sunan Kalijaga pergi, barulah Kyai Cakrajaya membuka cetakan gula yang diserahkan oleh tamunya tadi. Betapa terkejut Kyai Cakrajaya, setelah tahu isi cetakan itu, bukanlah gula kelapa, melainkan emas.

Kini tahulah Kyai Cakrajaya, bahwa tamunya tadi bukannya orang sembarangan, melainkan orang yang memiliki kesaktian luar biasa.

“Kalau bukan orang sakti, tidak mungkin dia memiliki kemampuan luar biasa seperti itu,” begitu pikir Kyai Cakrajaya. Cepat-cepat dia berlari keluar dari rumahnya, mengejar tamunya yang baru saja berangkat. Emas sebesar satu tangkep gula kelapa, ditinggalkannya begitu saja.

Setelah berhasil mengejar, Kyai Cakrajaya pun berkata: “Kalau saya diperbolehkan mengetahui bagaimana bunyi mantra itu, maka hidup matiku kuserahkan kepada Kanjeng Sunan,” begitu kata Kyaia Cakrajaya setelah berhadapan dengan Kanjeng Sunan Kalijaga.
“Mantra yang mana?” sambung Kanjeng Sunan.
“Mantra untuk membuat gula berubah menjadi emas,” jawab Kyai Cakrajaya.
“Untuk mendapat mantra itu, imbalannya sangat besar,” kata Kanjeng Sunan.
“Apakah imbalannya, Kanjeng Sunan?” tanya Kyai Cakrajaya.
“Laku, celathu, tumindak,” jawab Kanjeng Sunan Kalijaga. “Kalau kamu ingin, bergurulah kepadaku. Ikutilah segala tingkah lakuku.”

Singkat cerita, sejak saat itu, Kyai Cakrajaya meninggalkan tempat tinggalnya di Bagelen, meninggalkan segala barang miliknya, lalu mengikuti Kanjeng Sunan Kalijaga berkelana. Selama berkelana itu, Kanjeng Sunan Kalijaga mengajarkan ajaran agama Islam kepada Kyai Cakrajaya.

Pada suatu hari, berkatalah Kanjeng Sunan Kalijaga: “Anakku Cakrajaya. Aku akan bersembahyang ke Mekkah. Tongkatku ini kutinggalkan di sini,” sambil berkata begitu, Kanjeng Sunan Kalijaga menancapkan tongkat bambunya ke tanah. “Jagalah tongkatku ini selama aku pergi. Jangan kau meninggalkan tempat ini sebelum mendapat perintahku.”

“Sendika,” kata Kyai Cakrajaya.

Kanjeng Sunan pergi, sedang Cakrajaya dengan setianya melaksanakan pesan Kanjeng Sunan. Dia duduk bersila di dekat tongkat yang ditancapkan di tanah itu.

Ternyata kepergian Kanjeng Sunan Kalijaga itu lama sekali, sehingga pada saat kembali lagi di tempat beliau menancapkan tongkat, keadaan telah berubah. Tempat itu telah ditumbuhi “dhapuran pring ori” (sejenis pohon bambu) yang rimbun sekali. Kyai Cakrajaya duduk bersila dengan tenangnya di tengah rumpun bambu itu.

“Mengapa kau tetap di situ?” tanya Kanjeng Sunan.
“Mematuhi pesan Kanjeng Sunan, saya tidak pergi meninggalkan tempat ini sebelum mendapat perintah.”
“Kalau begitu, kuperintahkan, keluarlah dari situ,” kata Kanjeng Sunan.
“Maaf, Kanjeng Sunan,” jawab Kyai Cakrajaya. “Tanpa bantuan Kanjeng Sunan, tak mungkin saya dapat keluar dari rumpun bambu yang penuh duri ini.”
“Bagaimana kalau ku bakar dhapuran bambu ini?” tanya Kanjeng Sunan.
“Silakan, Kanjeng Sunan,” kata Kyai Cakrajaya tegas.
“Kau tidak takut terbakar?” tanya Kanjeng Sunan Kalijaga.
“Mematuhi perintah Kanjeng Sunan, apapun yang terjadi, hamba tidak takut menghadapinya,” kata Kyai Cakrajaya.

Kanjeng Sunan lalu membakar rumpun bambu itu. Api berkobar memakan habis rumpun bambu itu, dan Kyai Cakrajaya dapat keluar dengan selamat, hanya kulitnya menjadi hitam karena hangus.

“Sekarang ujianmu sudah lulus, maka kamu kuberi sebutan Sunan,” kata Kanjeng Sunan Kalijaga. “Dan karena tubuhmu geseng (hangus), maka kamu kunamakan Geseng. Sejak saat itu, Kyai Cakrajaya dikenal dengan nama Sunan Geseng.

“Karena api yang mulad-mulad (berkobar-kobar) yang dapat membebaskan kamu dari kungkungan rumpun bambu, maka tempat ini kunamakan Muladan”.

Dari tempat itu, Sunan Geseng lalu diajak berjalan ke arah timur. Di suatu tempat, Kanjeng Sunan Kalijaga lalu menancapkan tongkatnya. Setelah tongkat itu dicabut, timbullah sumber air dan menjadi sendang. Sunan Geseng disuruh mandi di sendang itu. Seketika itu pula kotoran hangus pada tubuh Sunan Geseng dapat bersih terhapus, hanyut di bawa aliran air, sampai di sungai yang dinamakan Kedhung Pucung, dan sedang itu dinamakan Sendang Banyu Urip.

“Jebeng,” kata Kanjeng Sunan Kalijaga. “Kali Kedhung Pucung ini tempat tertampungnya noda kotoran atau cemar yang semula melekat pada tubuhmu. Para punggawa pemerintah jangan mandi di sungai ini, agar jangan kena cemar.”

Konon, sampai sekarang, kepercayaan terhadap pengaruh air kali Kedhung Pucung itu masih hidup. Para pegawai pemerintah dan alat negara, tak berani mandi di kali itu, khawatir dipecat atau turun pangkat.

Selanjutnya Kanjeng Sunan Kalijaga mengajap Sunan Geseng berjalan ke arah barat. Sampai di suatu tempat, mereka berdua berhenti, lalu menetap. Di tempat itu Kanjeng Sunan Kalijaga memberikan wejangan yang mendalam tentang agama Islam kepada Sunan Geseng. Dengan tekunnya Sunan Geseng ngaji (mempelajari) ilmu yang dituangkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Tempat itu akhirnya berkembang menjadi sebuah desa, disebut Desa Ngajen.

Sumber:
Suwondo, Bambang. 1981. Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
HYPERLINK "http://folktalesnusantara.blogspot.com/2008/12/nyai-andan-sari-dan-kyai-guru-soka.html" Nyai Andan Sari dan Kyai Guru Soka

Di daerah Gunung Kidul, tepatnya di wilayah Dawung, terdapat dua buah sendang yang cukup terkenal yaitu Sendang Beji dan Sendang Mole. Sampai sekarang penduduk di sana sekali dalam setahun, bertepatan dengan hari Jumat Legi bulan Suro tidak pernah absen menyelenggarakan selamatan nyadran di kedua tempat tersebut. Adapun asal mulanya selamatan nyadren di kedua sendang itu, konon ceritanya adalah sebagai berikut.

Pada zaman dahulu kala di Desa Jepitu daerah Tepus, Gunung Kidul tinggallah sebuah keluarga yang sangat miskin. Keluarga ini terdiri dari suami, isteri, dan dua orang anaknya (seorang laki-laki dan yang seorang lagi perempuan). Suami-isteri itu bernama Kyai dan Nyai Goa Soka, sedang anaknya yang laki-laki bernama Guru soka dan yang perempuan bernama Andan Sari.

Kemiskinan yang dialami oleh keluarga Kyai/Nyai Goa Soka ini, terjadi setelah keduanya menikah. Apalagi setelah kedua anaknya lahir, kehidupan mereka semakin susah. Lama-kelamaan, karena sudah tidak tahan menderita lebih lama lagi, maka Kyai Goa Soka memutuskan untuk bertapa, mencari wahyu agar kehidupan rumah tangganya lebih baik. Singkat cerita, niat bertapa itu segera ia laksanakan.

Setelah beberapa bulan Kyai Goa Soka meninggalkan anak-isterinya untuk pergi bertapa. Selama itu pula keluarganya tak pernah sekali pun mendengar kabar beritanya. Hal ini membuat anak-isterinya merasa cemas. Tiap hari Guru Soka dan Andan Sari selalu menangis dan mengajak ibunya segera mencari ayah ayahnya. Mendengar kedua anaknya yang selalu merengek tersebut, Nyai Goa Soka akhirnya tidak tahan juga dan mengajak mereka untuk mencari Kyai Goa Soka.

Karena mereka belum tahu di mana Kyai Goa Soka berada, maka arah perjalanannya pun hanya kira-kira saja. Namun, setelah beberapa hari berjalan, akhirnya mereka berhasil juga menemukan tempat pertapaan Kyai Goa Soka yang terletak di Sendang Sureng. Pertemuan ini sangat menggembirakan mereka berempat. Beberapa hari kemudian, setelah pertemuan itu dirasa cukup, maka Nyai Goa Soka bersama kedua anaknya lalu kembali ke Jepitu lagi, sedang Kyai Goa Soka tetap meneruskan tapanya.

Lebih dari satu tahun kemudian, ternyata Kyai Goa Soka belum juga kembali dari tapanya. Selama itu pula keluarganya selalu menunggu dengan hati cemas. Dan, akhirnya Nyai Goa Soka bersama kedua anaknya lalu menyusul lagi ke Sendang Sureng untuk melihat keadaan suaminya.

Sampai di Sendang Sureng mereka merasa heran karena Kyai Goa Soka tidak ada di situ. Dalam keheranan dan sekaligus kebingungan itu, tiba-tiba mereka mendengar suara Kyai Goa Soka, tetapi tidak melihat orangnya. Kata Kyai Goa Soka: “Sudahlah jangan cemaskan aku. Mulai hari ini kalian tetaplah menunggu di tempat ini. Akulah yang akan mencari sandang dan pangan untuk kedua anak kita serta untukmu juga, Nyai.”

Setelah suara itu menghilang, Nyai Goa Soka dan kedua anaknya tiba-tiba melihat ujud Kyai Goa Soka. Selanjutnya, Kyai Goa Soka lalu membawa isteri dan anak-anaknya menghilang ke suatu tempat. Sejak itu penduduk Desa Jepitu tidak dapat melihat lagi ujud Kyai Goa Soka sekeluarga. Mereka menganggap bahwa Kyai Goa Soka sekeluarga telah menjadi gaib (kajiman).

Pada suatu hari Kyai Goa Soka menyuruh kedua anaknya agar mereka menjelajahi serta menghitung semua sendang yang ada di daerah Gunung Kidul. Jika telah diketahui jumlahnya, keduanya harus tinggal di sendang pada hitungan terakhir dan satu hitungan sebelum sendang terakhir.

Guru Soka dan Andan Sari lalu berangkat melaksanakan perintah ayahnya untuk menghitung jumlah seluruh sendang di Gunung Kidul. Setelah semua sendang yang ada selesai dikunjungi, maka diketahuilah bahwa jumlahnya ada 31. Pada waktu itu untuk menyebut angka 31 dipakai istilah beji yang berasal dari kata behji. Sendang itu oleh Guru Soka kemudian dinamakan Sendang Beji. Dan, di Sendang Beji inilah Guru Soka akan menetap untuk selamanya, seperti yang diperintahkan oleh ayahnya.

Setelah berada di sedang terakhir (Sendang Beji) ini, Andan Sari mengatakan bahwa ia akan mulih (pulang) ke sendang yang telah diperuntukkan baginya, yaitu sendang yang berada satu hitungan sebelum sendang terakhir. Dari perkataan mulih itu, sendang tempat Andan Sari menetap kemudian dinamakan Sendang Mole, yang letaknya berdekatan dengan Sendang Beji. Demikianlah asal mula kedua sendang itu dinamakan Sendang Beji dan Sendang Mole.

Setelah beberapa lama Guru Soka menetap di Sendang Beji dan Andan Sari di Sendang Mole, maka Kyai Goa Soka dan Nyai Goa Soka bermaksud mencari kedua anaknya. Kedua suami-isteri itu pun segera mencari anak-anaknya di seluruh sendang yang ada di wilayah Gunung Kidul. Akhirnya mereka menemukan Guru Soka dan Andan Sari di Sendang Beji dan Sendang mole. Melihat sendang yang ditempati kedua anaknya itu, Kyai dan Nyai Goa Soka merasa cocok dan puas. Kyai Goa Soka lalu berkata kepada kedua anaknya:

“Tempatmu ini kelak akan banyak dikunjungi orang. Dan, di antara orang-orang itu tentu ada yang datang meminta agar dikabulkan permohonannya dan ada pula yang datang namun bertindak sembrono dengan tidak mematuhi aturan-aturan yang berlaku di tempat ini. Nah, dari mereka inilah kalian akan memperoleh sandang dan pangan. Berbuatlah jail pada orang-orang yang sembrono ini.”

“Maksudnya bagaimana, Romo?” tanya kedua anaknya.

“Seandainya di tempatmu ada orang berbuat tidak senonoh dan tidak sopan, ataupun kurang menghormati tempatmu ini, ganggulah dia, tapi jangan sampai mati! Sebab kalau sampai mati mereka tidak dapat memberimu sandang atau pangan. Ganggu sajalah mereka sampai mengadakan peruwatan (selamatan) dan syukuran. Syukuran juga akan dilakukan bagi orang-orang yang merasa permohonannya dikabulkan. Nah, dari situlah kalian dapat memperoleh sandang serta pangan,” kata Kyai Goa Soka.

Bertahun-tahun kemudian, setelah wilayah Gunung Kidul menjadi ramai, Sendang Mole dan Sendang Beji pun banyak dikunjungi orang. Melihat hal ini, Guru Soka memberi wangsit pada seorang penduduk yang bertempat tinggal dekat Sendang Mole dan Sendang Beji, bernama Ki Serah. Dalam wangsit itu Ki Serah diberi kepercayaan untuk menjaga kedua sendang dan melayani segala kehendak atau permintaan orang-orang yang datang. Sejak saat itu Ki Serah lalu menjadi jurukunci di kedua sendang tersebut. Kalau ada orang datang minta berkah maka Ki Serah yang menjadi perantaranya dengan membakar kemenyan sambil menyebut nama Ki Guru Soka dan Nyai Andan Sari. Dan, apabila telah terkabul keinginannya, maka mereka akan mengadakan syukuran dengan menyembelih kambing di kedua sendang tersebut. Syukuran itu waktunya biasanya bersamaan dengan “nyadran”, yaitu Jumat Legi pada bulan Suro.

Setelah Ki Sareh meninggal dunia maka jabatan juru kunci digantikan oleh anaknya yang bernama Ki Krama Menggala. Pada masa Krama Menggala ini upacara nyadran dilaksanakan dengan selamatan sederhana, yaitu menyembelih kambing untuk kemudian dimakan bersama dengan penduduk setempat. Sebelum upacara nyadran dilaksanakan, terlebih dahulu Sendang Beji dan Sendang Mole harus dikuras.

Sendang Mole dan Sendang Beji memiliki mata air yang sangat besar. Karena besarnya mata air di sana maka dikhawatirkan pada saat musim hujan akan menimbulkan bencana banjir bagi warga di sekitar sendang tersebut. Untuk menjinakkan agar airnya jangan sampai meluap diperlukan seorang pawang. Satu-satunya orang yang dianggap mampu menjadi pawang di tempat itu hanyalah Wonotaruno, adik Kromo Manggala. Oleh Wonotaruno disarankan agar mata air tersebut disumbat dengan ijuk. Ternyata setelah disumbat, air itu tetap melimpah.

Karena tidak berhasil menyumbat mata air di kedua sendang itu, maka penduduk yang berada di sekitarnya menjadi resah. Melihat keresahan penduduk tersebut, Kyai Guru Soka kemudian memberi wangsit kepada salah seorang penduduk untuk menyediakan sesaji berupa gamelan komplit dengan wayangnya, agar sendang tidak terlampau melimpah airnya.

Penduduk lalu bergotong-royong untuk menyediakan sesaji berupa gamelan yang komplit dilengkapi dengan wayangnya. Konon, seketika itu juga gamelan dan wayang menghilang. Sebenarnya gamelan dan wayang itu tidak hilang, tetapi hanya tidak dapat terlihat oleh pandangan mata biasa. Pendapat ini dibuktikan dengan selalu terdengarnya bunyi gamelan yang datangnya dari arah sendang pada tiap malam Jumat.

Pada suatu malam ada salah seorang penduduk yang menerima wangsit yang mengatakan bahwa apabila ada orang yang membutuhkan gamelan serta wayang maka Kyai Guru Soka dan Nyai Andan Sari bersedia meminjamkan, asalkan setelah selesai segera dikembalikan.

Sejak saat itu banyak penduduk yang akan punya hajad selalu meminjam gamelan dan wayang ke sana. Namun sayang sekali, pada suatu ada seorang penduduk yang berbuat khilaf, dengan tidak mengembalikan salah satu perangkat gamelan yaitu kempul. Mulai saat itu penduduk sudah tidak dapat lagi meminjam gamelan, di samping itu suara yang sering terdengar menghilang sama sekali. Sedangkan, orang yang lupa mengembalikan kempul itu lalu menanggung akibat yang cukup berat. Anaknya mati semua, juga ternak peliharaannya.

Saat Ki Krama Manggala meninggal dunia, kedudukannya sebagai kuncen digantikan oleh Ki Panca Manggala. Selanjutnya Ki Panca Manggala digantikan oleh Ki Mangun Taruno. Orang inilah yang sampai sekarang biasa melakukan upacara nyadran di Sendang Mole dan Sendang Beji.

Kisah Raden Patah dan Gunung Genthong


Pada zaman dahulu, di tanah Jawa ada sebuah kerajaan besar yang bernama Majapahit. Salah seorang diantara raja-raja yang pernah memerintah kerajaan Majapahit itu bernama Prabu Brawijaya V. Sang Prabu Brawijaya V atau Brawijaya Pungkasan (terakhir), mempunyai seorang permaisuri dan beberapa orang selir. Salah seorang diantara para selir sang Prabu ialah Ratu Mayangsari. Suatu hari, pada saat Ratu Mayangsari mulai menampakkan gejala-gejala mengandung, sang Prabu Brawijaya menitipkannya kepada salah seorang saudaranya yang tinggal di desa dan hidup sebagai petani. Nama saudara sang Prabu yang diserahi tugas untuk menjaga Ratu Mayangsari itu ialah Ki Juru Sawah. Beberapa bulan kemudian, tibalah saatnya Ratu Mayangsari melahirkan seorang putera yang diberinya nama Raden Patah.

Suatu ketika, saat Raden Patah sudah mulai beranjak remaja, ia melihat Ki Juru Sawah akan pergi ke kerajaan untuk posok glondong pangareng-areng atau mempersembahkan upeti berupa sebagian dari hasil sawahnya kepada Raja. Saat Ki Juru Sawah berangkat ke kerajaan, Raden Patah mengikutinya secara sembunyi-sembunyi.

Sesampai di istana, Ki Juru Sawah langsung menghadap raja untuk menghaturkan upeti. Sementara Raden Patah yang mengikutinya dari belakang, mulai berkeliling untuk melihat istana raja. Ia yang sekali pun belum pernah ke istana, merasa kagum melihat barang-barang serba indah yang ada di sana. Dan, tanpa menghiraukan tata-krama yang berlaku di istana, Raden Patah langsung masuk ke sebuah gedung tempat menyimpan pusaka keraton. Setelah masuk ke dalam gedung, dengan tanpa ragu-ragu, Raden Patah memukul sebuah gong pusaka hingga menimbulkan suara yang menggelegar.

Mendengar suara gong pusaka yang menggelegar itu, Sang Prabu Brawijaya terkejut. Ia lalu memerintahkan Mahapatihnya, untuk melihat siapa orang yang telah berani memukul pusaka itu tanpa seizinnya.

Setelah mendapat perintah tersebut, sang Mahapatih lalu bergegas menuju gedung pusaka. Di sana ia melihat seorang anak muda yang di tangannya masih menggenggam alat pemukul gong. Setelah melihat siapa pelakunya, sang Mahapatih segera kembali ke istana untuk melaporkannya pada raja.

Ketika mendapat laporan dari Mahapatihnya itu, sang Prabu agak terkejut, sebab selain dirinya sendiri, di seluruh kerajaan hanya ada beberapa orang saja yang mempunyai kekuatan luar biasa yang mampu memukul gong pusaka itu hingga berbunyi. Sang Prabu kemudian berkata, “Anak siapa dia? Lekas panggil kemari!”

Sang Mahapatih kemudian kembali lagi ke gedung pusaka untuk membawa Raden Patah menghadap raja. Setelah Raden Patah dibawa menghadap baginda raja, Ki Juru Sawah yang juga masih di tempat itu menjadi terkejut sekali. Ia tidak menyangka kalau Raden Patah telah mengikutinya ke kota. Dan, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Ki Juru Sawah segera berkata, “Ampun Baginda Prabu, hamba sama sekali tidak menyangka kalau dia ikut ke kota. Sudah berkali-kali hamba melarang dia ikut, tetapi rupanya secara sembunyi-sembunyi dia mengikuti perjalanan hamba.”

“Kau kenal anak muda ini, Ki Juru?” tanya Sang Prabu.
“Ya. Hamba mengenalnya,” jawab Ki Juru Sawah.
“Siapakah dia?” tanya baginda.
“Ia adalah anak asuhan hamba,” jawab Ki Juru Sawah.
“Lalu, anak siapa dia?” tanya baginda lagi.
“Dia adalah anak yang dilahirkan oleh Ratu Mayangsari.”
“Wah, kalau begitu dia adalah anakku,” kata baginda.
“Benar, Baginda Prabu,” sembah Ki Juru Sawah.
“Kalau begitu, biarlah dia tinggal di keraton ini,” kata baginda dengan nada gembira, sebab anak dari salah seorang selirnya itu telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan.

Singkat cerita, sejak saat itu Raden Patah tidak lagi tinggal di rumah Ki Juru Sawah, melainkan tinggal di Keraton Majapahit. Selama tinggal di keraton, Raden Patah dengan tekun mempelajari berbagai macam ilmu, sehingga pada saat usianya menginjak dewasa ia telah menjadi seorang yang tidak hanya pandai dalam ilmu olah kanuragan, tetapi juga ilmu-ilmu tentang kenegaraan. Oleh karena itu, Prabu Brawijaya lalu mengutusnya untuk mengepalai wilayah jajahan Majapahit di Palembang.

Setelah beberapa tahun menjadi kepala wilayah jajahan di Palembang, pada suatu malam Raden Patah bermimpin didatangi dan di-Islamkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Di dalam mimpinya itu Kanjeng Sunan Kalijaga juga berkata, “Jebeng1, sekarang sudah tiba saatnya kau kembali ke tanah Jawa. Tengoklah ayahmu yang kini telah lanjut usianya. Bawalah prajurit berjumlah seratus empat puluh orang. Tetapi ingat, kau jangan langsung menuju Majapahit, tetapi tinggallah di daerah Glagahwangi2 dan dirikanlah sebuah masjid di tempat itu.”
Setelah mendapat wisik3 dari Kanjeng Sunan Kalijaga, beberapa hari kemudian berangkatlah Raden Patah ke tanah Jawa, dengan membawa prajurit berjumlah seratus empat puluh orang. Setelah menempuh perjalanan yang panjang, sampailah rombongan itu di daerah Glagahwangi yang masih berupa hutan. Di hutan itu, Raden Patah beserta rombongannya mulai membangun sebuah masjid.

Oleh karena daerah Glagahwangi masih termasuk wilayah Kerajaan Majapahit, maka Raden Patah merasa perlu menjumpai ayahnya, untuk meminta izin membuka hutan dan mendirikan masjid. Dengan dasar itulah, maka Raden Patah beserta para pengiringnya berangkat ke Majapahit untuk menghadap Prabu Brawijaya.

Namun, karena mendapat laporan dari para telik sandi-nya yang menginformasikan bahwa Raden Patah sedang menuju ke kerajaan dengan membawa ratusan pengawal, entah mengapa Sang Prabu Brawijaya mengira bahwa anaknya itu akan menyerang Kerajaan Majapahit. Dan, entah mengapa pula sang Prabu lalu mengajak permaisuri beserta pengawalnya untuk melarikan diri dari Majapahit. Dalam pelarian ini sang Prabu juga membawa anjing kesayangannya.

Pelarian sang Prabu Brawijaya, permaisuri beserta para pengiringnya itu dari Kerajaan Majapahit menuju ke arah barat hingga sampai di wilayah Gunung Kidul. Sesampainya di tempat itu, sang Prabu menyuruh para pengiringnya membuka hutan dan mendirikan sebuah pedukuhan. Pedukuhan ini sekarang telah menjadi sebuah desa yang bernama Desa Gagang, termasuk dalam wilayah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Saat Raden Patah beserta pengiringnya telah tiba di Majapahit, ia menjadi kecewa karena kerajaan telah kosong. Rupanya antara ayah dan anak tersebut telah terjadi suatu kesalah-paham. Raden Patah datang ke kerajaan dengan maksud ingin meminta izin untuk mendirikan masjid di Glagahwangi, sedangkan Prabu Brawijaya mengira kedatangan puteranya itu bertujuan hendak menyerang Majapahit. Oleh karena itu, Raden Patah beserta pengiringnya berusaha menyusul ayahandanya ke Gunung Kidul.

Setelah beberapa saat lamanya bermukim di Gunung Kudul, Prabu Brawijaya mendengar berita lagi bahwa rombongan Raden Patah sedang menyusulnya. Prabu Brawijaya yang semakin yakin bahwa puteranya itu ingin menyerangnya, kemudian pindah lagi ke sebuah bukit yang masih berada di kawasan Gunung Kidul. Di tempat yang baru itu ia mendirikan sebuah padepokan yang saat ini telah menjadi sebuah desa yang bernama Manggung4. Tujuan dari pendirian pedukuhan di atas bukit adalah agar apabila Raden Patah beserta para pengiringnya datang, dapat segera mengetahuinya.

Namun, setelah tinggal di bukit itu, sang Prabu beserta para pengawalnya menghadapi kesulitan. Di puncak bukit tidak ada sumber air, sehingga setiap ia dan permaisurinya memerlukan air, terpaksa pengawalnya harus pergi ke sumber air yang terletak di kaki bukit.

Sementara itu, Raden Patah yang berusaha menyusul telah sampai di Gunung Nglompong. Di daerah Gunung Nglompong ini ia mendapat keterangan dari penduduk bahwa Prabu Brawijaya bersembunyi di puncak bukit Manggung. Raden Patah juga mengetahui, bahwa di tempat persembunyiannya Prabu Brawijaya sering mengalami kesulitan karena tidak ada air. Oleh sebab itu, dengan kemampuan luar biasa yang dimiliki, Raden Patah lalu melemparkan sebuah genthong atau padasan yang penuh berisi air ke puncak Bukit Manggung.

Sewaktu sang Prabu secara tiba-tiba mendapati sebuah padasan yang telah berisi air di depan pondoknya, ia yakin bahwa itu adalah “ulah” anaknya. Ia menyangka Raden Patah sedang mengejeknya dengan memberikan genthong yang penuh berisi air yang memang sangat dibutuhkannya. Oleh karena itu, sang Prabu beserta permaisuri dan para pengawalnya meninggalkan bukit Manggung untuk mencari tempat persembunyian yang lain. Dan sejak saat itu, bukit tempat Prabu Brawijaya yang dilempari sebuah genthong oleh Raden Patah dinamakan sebagai Gunung Genthong. Dan, sampai saat ini genthong “pemberian” Raden Patah itu masih ada namun dindingnya sudah retak-retak, sehingga tidak dapat lagi digunakan untuk menampung air.

Begitulah, terus-menerus Sang Prabu Brawijaya senantiasa melarikan diri dan bersembunyi. Sedangkan Raden Patah pun juga terus saja mencari dan berusaha ingin menjumpai. Sampai suatu saat sang Prabu dapat tersusul oleh Raden Patah.

Singkat cerita, setelah mendengar penjelasan dari Raden Patah, maka seluruh kesalah-pahaman diantara mereka pun dapat diselesaikan. Dan, kepada puteranya itu sang Prabu berkata, “Baiklah, Patah. Ayahanda ingin berbicara. Kalau ayahanda harus menuruti kehendakmu untuk menganut agamamu, ayahanda tidak bersedia. Kalau kau memang memilih agamamu itu, tekunilah dengan sungguh-sungguh. Soal niatmu akan membangun masjid, laksanakan sebaik-baiknya. Bahkan ayahanda mengizinkan engkau membangun keratonmu di Glagahwangi. Setelah jadi, namakanlah Demak Bintara, agar negerimu kelak ramai dan berwibawa. Pindahkanlah seluruh isi Keraton Majapahit ke Demak Bintara.”

Setelah mendapat nasihat dari ayahandanya, Raden Patah lalu melanjutkan rencananya membangun masjid di Glagahwangi. Bahkan, sesuai dengan nasihat yang diterimanya, ia pun mulai mendirikan keraton. Saat keraton selesai di buat, barang-barang dari Keraton Majapahit lalu dipindahkan ke keratonnya yang dinamakan Demak Bintara.

Kisah Jaka Bagus


Pada masa Mataram diperintah oleh Gusti Sultan Agung, negeri Mataram terbagi atas beberapa daerah. Masing-masing daerah itu diketuai oleh seorang “rangga” atau penguasa daerah. Salah satu diantara daerah itu ialah daerah Blimbing, dan ketuanya disebut Rangga Blimbing.

Sudah menjadi tradisi di negeri Mataram bahwa pada saat-saat tertentu secara rutin mengadakan “pisowanan pasok bulu bekti”, yaitu persembahan semacam upeti kepada raja sebagai tanda takluk. Pada kesempatan ini semua rangga yang ada di wilayah Mataram harus hadir. Jika berhalangan, harus memberi kabar. Apabila ada yang tidak hadir tanpa memberi kabar sama sekali, maka pihak keraton lalu mengirimkan utusan untuk menyelidiki, karena dikhawatirkan kalau rangga tersebut mulai membangkang, atau memberontak.

Rangga Blimbing adalah seorang rangga yang setia terhadap Gusti Sultan Agung. Ia tidak pernah absen mendatangi pisowanan. Bahkan tidak jarang ia membawa anak laki-lakinya yang bernama Jaya Ketok ke pisowanan. Jaya Ketok adalah seorang pemuda yang berperawakan gagah dan berwajah tampan, cerdas, serta tingkah lakunya menarik. Setiap kali ikut ayahnya menghadiri pisowanan, Jaya Ketok selalu bertemu dengan Gusti Rara Pembayun, salah seorang puteri Gusti Sultan Agung. Puteri ini parasnya sangat cantik.

Karena sering bertemu, maka antara Jaya Ketok dengan Gusti Rara Pembayun lalu merasa saling tertarik yang selanjutnya berkembang menjadi saling satuh cinta. Sejak saat itu Jaya Ketok secara sembunyi-sembunyi sering mengadakan pertemuan dengan Gusti Rara Pembayun.

Hubungan antara kedua orang ini akhirnya diketahui oleh seorang abdi, yang kemudian menyampaikan kepada Gusti Sultan Agung. Mula-mula Sultan Agung sangat terkejut begitu mendengar kabar tersebut. Dalam hati beliau bertekad tidak akan membiarkan hubungan ini berlangsung terus. Menurut pertimbangan beliau apabila hubungan ini tidak segera diputuskan akan menjatuhkan martabatnya, sebab Gusti Rara Pembayun adalah puteri seorang Raja besar, sedangkan Jaya Ketok hanyalah anak seorang rangga. Jadi sama sekali tidak seimbang. Meskipun dalam hati Gusti Sultan Agung juga mengakui bahwa Jaya Ketok adalah pemuda pilihan.

Gusti Sultan Agung ingin menyelesaikan persoalan ini dengan cara bijaksana. Dipanggilnya Rangga Blimbing, Jaya Ketok dan Gusti Rara Pembayun. Setelah ketiganya menghadap lalu dinasehati agar mereka menyadari kedudukan masing-masing, dan jangan sampai hubungan ini diteruskan. Dan kepada Rangga Blimbing, Sang Prabu berpesan agar memberi pengertian kepada anaknya.

Rangga Blimbing bisa menerima nasihat Gusti Sultan Agung dengan hati lapang. Tetapi bagi Jaya Ketok dan Gusti Rara Pembayuan, nasihat Sang Prabu ini hanya pura-pura disanggupi. Secara sembunyi-sembunyi mereka tetap mengadakan pertemuan. Hal ini diketahui dan dilaporkan lagi oleh seorang abdi dalem kepada Gusti Sultan Agung. Begitu menerima laporan, Gusti Sultan Agung menjadi sangat murka. Dianggapnya Rangga Blimbing tidak mau menyadarkan anaknya. Akhirnya ia mengutus prajuritnya untuk membunuh Rangga Blimbing.

Rupanya Rangga Blimbing sudah mendengar bahwa daerahnya akan diserang, sehingga sementara prajurit Mataram dalam perjalanan ke Blimbing, pihak Blimbing telah menyiapkan pasukannya. Ketika prajurit Mataram datang, terus mereka hadapi. Ternyata ketahanan prajurit Blimbing cukup kuat. Pihak mataram menjadi kewalahan. Akhirnya pihak Blimbing berhasil mendesak mundur lawannya sehingga dengan kekuatan yang masih tersisa prajurit Mataram kembali ke keraton.

Masa itu sudah banyak Belanda yang berdiam di negeri Mataram. Dengan tidak berpikir panjang Gusti Sultan Agung lalu minta bantuan kepada Belanda. Maka diserbulah daerah Blimbing untuk kedua kalinya. Kali ini prajurit Mataram yang disertai pasukan Belanda itu lebih unggul peperangannya. Akhirnya pasukan Blimbing terdesak. Sedang Jaya Ketok dapat ditangkap dan dibunuh di sebuah telaga yang terletak dekat Desa Blimbing.

Dengan terbunuhnya Jaya Ketok bukan berarti keamanan negeri Mataram telah pulih kembali, sebab lalu menyusul peperangan lain yang lebih besar. Kali ini peperangan antara Mataram dengan Belanda.

Adapun penyebab dari peperangan kedua ini, dari pihak belanda merasa telah berjasa dan mereka menuntut Gusti Sultan Agung agar menyerahkan Gusti Rara Pembayun kepada seorang perwira Belanda untuk dijadikan isterinya. Sultan Agung bersedia memenuhi permintaan itu, asalkan Gusti Rara Pembayun mau. Ternyata Gusti Rara Pembayun tidak bersedia diambil isteri oleh perwira Belanda itu.

Perwira Belanda itu sangat marah ketika mendapat kabar bahwa Gusti Rara Pembayun tidak bersedia menjadi isterinya. Ia lalu menuduh Sultan Agung telah mempengaruhi puterinya agar menolak lamarannya. Tuduhan ini membuat Sultan Agung sangat marah, karena merasa dihina sehingga beliau lalu mengambil keputusan menentang Belanda.

Tidak lama kemudian terjadilah peperangan antara prajurit Mataram melawan Belanda. Peperangan ini cukup ramai, karena masing-masing pihak berusaha mengalahkan lawannya. Tetapi karena perlengkapan perang Belanda lebih modern, maka sedikit demi sedikit prajurit Mataram mulai terdesak. Akhirnya prajurit Mataram sudah tidak dapat bertahan lagi.

Untuk menyelamatkan diri Sultan Agung terpaksa meninggalkan keraton. Perjalanan Sultan Agung disertai oleh permaisuri dan beberapa orang pengawal. Pengembaraan Sultan Agung baru berhenti setelah sampai di Desa Kedunglumbu, daerah Surakarta. Dengan demikian untuk sementara pemerintahan di Keraton Mataram mengalami kekosongan karena ditinggal mengungsi.

Di Desa Kedunglumbu tempat Sultan Agung mengungsi berdiamlah seorang gadis anak seorang janda miskin. Meskipun gadis ini hanya keturunan orang kebanyakan dan tinggalnya di desa, tetapi ia mempunyai kelebihan dari gadis-gadis desa yang lain, yaitu wajahnya sangat cantik serta tingkah lakunya sangat menarik. Ketika Gusti Sultan Agung melihat gadis itu beliau lalu tertarik. Selanjutnya gadis tadi dijadikan salah seorang selirnya.

Dari perkawinan antara Sultan Agung dengan perempuan Desa Kedunglumbu itu lahirlah seorang anak laki-laki yang tampan, dinamakan Jaka Bagus. Tidak lama setelah Jaka Bagus lahir, maka permaisuri Gusti Sultan Agung yang ikut mengungsi juga melahirkan seorang anak laki-laki, namanya Jaka Trenggana. Jaka Bagus dan Jaka Trenggana yang besarnya hampir sebaya itu dididik bersama di Desa Kedunglumbu. Keduanya dapat rukun seperti halnya dua orang bersaudara kandung.

Pada suatu hari Jaka Bagus secara tiba-tiba terserang penyakit cacar. Oleh Gusti Sultan Agung ia lalu dibawa ke Desa Giring daerah Gunung Kidul, maksudnya akan dititipkan kepada Ki Ageng Wonoboyo Giring. Bersama Jaka Bagus disertakan pula seorang emban (pengasuh) dan seorang abdi laki. Waktu menyerahkan kepada Ki Ageng Wonoboyo, Sultan Agung bersabda: “Ki Ageng Wonoboyo, saya titip anak saya untuk dirawat dari sakitnya. Apabila anak saya ini dapat sehat kembali maka saya serahkan kepada Ki Ageng untuk mengasuhnya. Tetapi apabila tidak dapat sembuh saya harap Ki Ageng mau menguburnya di sebuah puncak bukit yang tinggi, dan tingginya harus melebihi puncak bukit makan kedua orang abdinya kelak.”

“sendika”, demikian jawab Ki Ageng Wonoboyo. Setelah penyerahan itu selesai Gusti Sultan Agung lalu kembali lagi ke tempat pengungsiannya di Desa Kedunglumbu.

Setelah Sultan Agung meninggalkan Giring, maka Ki Ageng Wonoboyo lalu berusaha dengan berbagai cara merawat penyakit Jaka Bagus. Namun segala usaha itu tidak berhasil, akhirnya Jaka Bagus meninggal. Sesuai dengan pesan Gusti Sultan Agung, maka jenazah Jaka Bagus lalu dimakamkan di sebuah puncak bukit yang tinggi, yang tingginya melebihi puncak bukit di sekitarnya. Bukit itu terletak di sebelah selatan Desa Giring.

Setelah pekerjaan memakamkan Jaka Bagus itu selesai, Ki Ageng Wonoboyo lalu menghadap Gusti Sultan Agung melaporkan, bahwa usahanya merawat Jaka Bagus tidak berhasil. Di hadapan Gusti Sultan Agung, Ki Ageng Wonoboyo menyatakan: “Ampun Gusti, ternyata hamba tidak berhasil menjalankan titah paduka, sehingga putera paduka wafat. Jenazahnya telah hamba makamkan, di sebuah puncak bukit yang tinggi”.

Gusti Sultan Agung lalu menjawab, “Sudahlah Ki Ageng, jangan terlalu bersedih. Rupanya memang sudah kodratnya Jaka Baus tidak berumur panjang. Lagi pula apabila Jaka Bagus dapat sembuh mungkin kelak akan menyebabkan terjadinya keributan di Mataram, sebab bukan dia yang akan saya angkat menjadi penggantiku, tetapi puteraku Trenggana.”

Selanjutnya bukit tempat memakamkan Jaka Bagus ini lalu dinamakan Gunung Bagus. Sedang kedua orang abdi yang menyertai Jaka Bagus dari Kedunglumbu lalu menetap di Giring. Dan setelah meninggal dimakamkan di dekat Giring pula, tetapi tempatnya dipilih yang lebih rendah dari Gunung Bagus.

Makam Gunung Bagus ini terkenal sangat angker. Kabarnya apabila ada burung yang terbang di atasnya akan jatuh dan mati. Dan jika ada binatang yang mendaki bukit tersebut pasti akan hilang.