Makam Kuno Buyut Sayu Atikah Banyuwangi


Disebuah bukit di sisi sebelah barat Kota Banyuwangi, ada sebuah makam kuno yang baru ditemukan pada sekitar tahun 1920-an silam. Makam yang terletak di kawasan yang oleh masyarakat sekitar disebut dengan ‘Bukit Giri’ itu adalah Makam Buyut Sayu Atikah. Makam tersebut dipercaya sebagai makam Islam tertua di Banyuwangi yang dibangun pada abad XV silam. Semenjak ditemukan, selama ini bangunan makam tersebut sudah pernah 3 direhab, yakni pada tahun 1993, 2004 dan 2007.Kini, area pemakaman yang dinaungi Sembilan pohon Kamboja berusia ratusan tahun itu juga mulai ramai dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah di Jawa Timur. Selain makam Buyut Sayu Atikah (makam utama) yang berada dibilik bangunan bertirai putih, juga terdapat Sembilan buah makam lain di area yang termasuk dalam wilayah Kelurahan Giri itu. Lalu, siapa sebenarnya Buyut Sayu Atikah yang makamnya juga dianggap keramat itu?

Menurut penulis buku “Mengenal Sejarah dan Kebudayaan Banyuwangi”, Drs Suhalik, Sayu Atikah adalah cucu dari Raja Blambangan, Prabu Menak Sembuyu. Sayu Atikah yang bernama asli Putri Sekar Dadu itu dinikahkan dengan Maulana Ishak atau yang dikenal dengan nama Syekh Wali Lanang, setelah Maulana Ishak berhasil menyembuhkan Putri sang Raja dari penyakit.

Konon, Maulana Ishak datang ke Bumi Blambangan karena diutus oleh Sunan Ampel untuk mengislamkan masyarakat Blambangan yang kala itu masih beragama Hindu. Oleh Raja, Maulana Ishak diperbolehkan menyebarkan Islam tetapi hanya kepada maysrakat biasa di luar istana. Namun, Maulana Ishak kemudian dianggap melanggar karena juga menyebarkan ajaran Islam di kalangan pejabat istana. Karena itu, Maulana Ishak kemudian diusir dari Blambangan, dan anak yang dikandung Sekardadu, istrinya, harus dilarung ke laut.

Bayi yang dilarung itu diketemukan oleh seorang nakhoda kapal bernama Abu Huroiroh yang kemudian diserahkan kepada saudagar perempuan bernama; Nyai Ageng Pinatih dari Gresik. Bayi yang diberi nama; Raden Muhammad Ainul Yakin alias Raden Paku yang dilarung kelaut itulah yang ketika dewasa dikenal sebagai Sunan Giri, salah satu dari ‘Wali Songo’ penyebar Agama Islam di Tanah Jawa.

Konon makam Buyut Atikah sering jadi jujukan pengusaha yang ingin sukses. Mereka melakukan doa dan meminta kemudahan agar dilancarkan usaha perdagangannya.
http://infobanyuwangi.com

cerita, kisah, legenda, mitos,alkisah,sejarah,dongeng,petilasan, makam, wali, religi,kuno, angker,hutan, alas,kuburan,jaman,viral, trend, fenomena, alam, aneh, unik,jimat, karomah, sakti,ghoib,mimpi, tafsir, kode mimpi, 2017,2018,2019,2020,2021,2022,2023,2024,2025

Makam Mbah Wali Abu Hasan Basri - Banyuwangi



Mbah Wali Abu Hasan Basri cukup terkenal di Banyuwangi Selatan. Ulama karismatis yang meninggal tahun 1953 itu sangat dikenal alim dan ikut berjuang melawan Belanda. Sampai saat ini makamnya yang berada di Dusun Sumberkepuh, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, banyak didatangi  peziarah.

Tidak jarang warga yang datang sampai bermalam. Lokasi makam Mbah Wali Abu Hasan Basri berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat kantor Kecamatan Tegaldlimo. Tempat makam ini sangat mudah dicari. Selain sudah ada papan petunjuk menuju arah makam, hampir semua warga yang tinggal di Desa Kedungwungu dan beberapa desa sekitar, seperti Desa Kedungggebang dan Desa Kedungasri, sudah tahu letak makam  yang dikeramatkan warga itu
Pintu masuk menuju makam berupa bangunan gapura besar dengan lebar sekitar enam meter dan tinggi tiga meter. Samping  gapura tertulis jelas Makam Mbah Wali Abu Hasan Basri. Di gapura sebelah kanan terdapat sebuah relief Pangeran Diponegoro.

Setelah memasuki jalan kecil dengan lebar tiga meter, sepintas tidak tampak ada makam. Yang terlihat hanya bangunan kecil mirip musala yang menyatu dengan rumah. Di musala dengan ukuran lima meter kali enam meter itu ada sumur  dan tempat wudu.

Di musala itu ada lorong kecil dengan lebar sekitar satu meter. Lorong itu ternyata menuju makam Mbah Wali Abu Hasan Basri. Pada dinding dekat lorong itu, ada tulisan daftar buku tamu. Juru kunci makam, Walijan, 72, setiap hari setia menunggu para peziarah yang datang.

“Hampir setiap hari ada warga yang datang,” cetus Walijan. Walijan mengaku tidak tahu persis asal usul Mbah Wali Abu Hasan Basri. Yang diketahui, Mbah Wali ini seorang pengembara dan penyebar agama Islam dari Cirebon, Jawa Barat.

“Datang ke sini tahun berapa, tidak ada yang tahu,” terang menantu Karto Bario, teman Mbah Wali Abu Hasan Basri. Mbah Wali Abu Hasan Basri ini masih keturunan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, salah satu Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di daerah Cirebon.

Keturunan itu berasal  dari sang ayah Abdul Mu’in dan ibunya Raden Ratna yang dimakamkan di kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati, Cirebon. “Jadi garis keturunan beliau ini waliullah,” terangnya. Semasa berkelana dari Cirebon menuju Banyuwangi, Mbah Wali sempat singgah di Gambiran selama dua tahun.

Kemudian, berjalan ke timur hingga sampai di Dusun Sumberkepuh, Desa Kedungwungu, yang dulu masih berupa hutan dan rumah penduduk jarang. Setiba di Sumberkepuh, Mbah Wali bertemu seorang pembajak sawah bernama Abdul Sahid yang konon memiliki tanah cukup luas.

Mengetahui perjuangan Mbah Wali dalam menyebarkan Islam, Abdul Sahid memberi sebidang tanah untuk dibangun musala dan rumah, sebagai tempat tinggal. “Tanah yang diberikan itu ya musala dan makam ini,” kenangnya.

Dalam mengajarkan Islam, Mbah Wali Abu Hasan tidak hanya berada di Dusun Sumberkepuh saja, tapi sering berpindah pindah hingga ke  Desa Sumberberas, dan Dusun Tratas, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar. Selama tinggal  di daerah untuk berdakwah, Mbah Wali biasanya  membangun masjid dan musala.

“Peninggalannya berupa masjid dan musala masih ada,” cetusnya. Dalam menyebarkan agama Islam, Mbah Wali juga dikenal gigih melawan penjajah Belanda. Setiap pertempuran yang diikuti, selalu menguta makan keselamatan warga. “Setiap tank Belanda akan menyerang rumah Mbah Wali, selalu meleset.

Kalau sasarannya ke Alas Purwo, tank milik Belanda langsung ambles,” kisahnya. Karomah lain yang dimiliki Mbah Wali Abu Hasan, saat berbincang dan duduk bersama tamu dalam satu teko yang berisi air, setelah  dituang ke cangkir atau gelas isinya berbeda-beda sesuai yang dikehendaki para tamu.

“Jadi, isinya bisa kopi, teh, air putih, padahal satu teko,” jelasnya. Karena memiliki karomah itu, warga banyak yang tertarik untuk mempelajari ilmu agama Islam saat itu. Hingga kini, makam tersebut masih menjadi jujugan para peziarah.
http://www.kabarbanyuwangi.info

cerita, kisah, legenda, mitos,alkisah,sejarah,dongeng,petilasan, makam, wali, religi,kuno, angker,hutan, alas,kuburan,jaman,viral, trend, fenomena, alam, aneh, unik,jimat, karomah, sakti,ghoib,mimpi, tafsir, kode mimpi, 2017,2018,2019,2020,2021,2022,2023,2024,2025

Kisah Tunggal Panaluan - Batak


Sepasang suami istri yaitu Datu Baragas Tunggal Pambarbar Na Sumurung (ahli ukir) dan istrinya Nan Sindak Panaluan, sudah lama menikah tapi belum dikaruniai anak. Mereka menanyakan hal tersebut kepada ahli ramal, ahli ramal menganjurkan agar mengganti patung-patung yang ada di rumahnya dengan yang lebih cantik. Maka pergilah Datu Baragas kehutan untuk mencari kayu yang cocok dijadikan patung, tetapi berhari-hari lamanya tidak ditemukan. Suatu saat ia (Baragas Tunggal) melihat di udara pohon melayang-layang tanpa cabang, daunnya kira-kira setinggi manusia. Baragas memohon kepada Mulajadi agar pohon tersebut diturunkan ke bumi dan ternyata dikabulkan. Pohon tersebut turun tepat ditempat peristirahatan (perberhentian) yang disebut Adian Naga Tolping. 

Baragas mengambilnya serta mulai mengukir sehingga berbentuk seorang gadis disebut Jonjong Anian. Setelah selesai, ia bermaksud membawa pulang, tetapi tidak dapat diangkatnya.
Beberapa hari kemudian saudagar kain dan perhiasan lewat lalu beristirahat ditempat tersebut. Saudagar melihat betapa cantiknya patung tersebut bila dikenakan pakaian dan perhiasan lengkap. Ia kemudian mengenakan pakaian, selendang, kerabu, kalung, gelang dan kancing emas. Ketika hendak pulang barang-barang tersebut tidak dapat dibuka walau dengan cara apapun. Lalu ia pulang dengan hati yang sangat kesal. Tersiarlah berita sampai keseluruh negeri dan sampai pada dukun 

Nasumurung Datu Pangabang-abang Pangubung-ubung yaitu dukun yang dapat menghidupkan kembali yang mati atau menyegarkan yang busuk. Sang dukun pergi ketempat patung tersebut dengan membawa obat berkhasiat, lalu meneteskannya ke mata patung, matanya langsung berkedip, ditetskan kehidung terus bersin, diteteskan ke bibir sehingga komat-kamit, diteteskan ke mulut terus dapat berbicara, ke telinga lalu mendengar, kepersendian, pergelangan tangan maupun kaki sehingga dapat bergerak dan berjalan sehingga patung tersebut menjadi seorang gadis cantik jelita, diberi nama siboru Jonjong Anian Siboru Tibal Tudosan.

Datu Nasumurung membangun rumah untuk tempatnya bertenun yang dikawal harimau, babi dan anjing, tangga rumahnya dibuat dari pisau-pisau yang tajam. Banyak pemuda yang simpati padanya tapi untuk bertemupun tidak bisa, namun seorang pemuda berhasil memikat hatinya yang bernama Guru Tatea Bulan dan sepakat untuk melaksanakan perkawinan. Berita itu tersebar luas diseluruh negeri dan sampai kepada Baragas (sipembuat patung), lalu mendatangi datu Pangabang-abang yang menanyakan hal itu. Terjadilah perselisihan antara sipembuat patung (pengukir), datu yang menghidupkan dan saudagar yang masing-masing mengatakan bahwa siboru Jonjong Anian adalah putrinya.

Perselisihan itu ditengahi oleh Si Raja Bahir-bahir (seorang penyumpit) yang menyatakan : Baragas (pengukir) pantas menjadi ayahnya, saudagar menjadi pamannya dan datu Pangabang-abang menjadi kakeknya. Pendapat itu disetujui dan perkawinanpun dilaksanakan. Beberapa lama kemudian, Siboru Jonjong Anian mulai mengandung (hamil). Selama hamil Guru Tatea Bulan senantiasa memenuhi permintaannya agar kelak tidak menjadi staknasi (halangan), walaupun permintaan tersebut terasa aneh, mis : meminta hati elang, nangka, pisang, ikan lumba-lumba, ayam jantan, dll. Ternyata kehamilannya diluar kebiasaan yaitu selama 12 bulan, setelah lahir ternyata kembar dua (marporhas), laki-laki dan perempuan, Guru Tatea Bulan melaksanakan pesta pemberian nama (martutu aek). Yang laki-laki dinamai Aji Donda Hatahutan Situan Parbaring dan adiknya si Tapi Nauasan Siboru Panaluan.

cerita, kisah, legenda, mitos,alkisah,sejarah,dongeng,2017,2018,2019,2020,2021,2022,2023,2024,2025

Kisah La Kuttu-kuttu Paddaga


La Kuttu-kuttu Paddaga adalah nama seorang pemuda yang gagah dan tampan. Ia adalah seorang yang sangat ahli bermain sepak raga, sebab pekerjaannya setiap hari tiada lain hanyalah bermain sepak raga bersama teman-temannya. Pada suatu hari ia diajak oleh teman-temannya bertandang ke desa tetangga untuk bermain sepak raga melawan para pemuda di sana. Dan, secara kebetulan lapangan yang digunakan untuk bermain berada di dekat rumah seorang gadis penenun.

Setelah beberapa lama bermain, La Kuttu-kuttu Paddaga merasa haus. Oleh karena rumah yang terdekat dari lapangan bermain adalah rumah sang gadis penenun, maka ia segera menuju ke sana dengan maksud hendak meminta air minum. Setelah naik ke rumah dan bertemu dengan sang gadis yang sedang menenun di serambi, La Kuttu-kuttu Paddaga lalu berkata, “Bolehkah saya meminta air barang seteguk?”

Si gadis yang waktu itu kebetulan sedang sendiri, segera menjawab, “Maaf, langsung ambil sendiri saja di dapur. Saya belum boleh keluar dari alat tenun ini, sebab benangnya baru saja dikanji.”

Setelah mendapat izin dari sang gadis, La Kuttu-kuttu Paddaga segera ke dapur untuk minum. Waktu kembali dari dapur dan melewati sang gadis, ia secara basa-basi bertanya, “Sarung siapa yang engkau tenun?”

“Ya, sarung kita,” jawab gadis penenun singkat.

“Ow. Ya sudah, terima kasih sudah memberi saya minum,” kata La Kuttu-kuttu Paddaga berpamintan untuk melanjutkan bermain sepak raga lagi.

Sambil berlalu dari rumah itu sebenarnya ia selalu mengingat kata-kata terakhir sang gadis yang menyatakan bahwa sarung itu adalah “sarung kita”. Dalam pikirannya, apabila sarung itu adalah “sarung kita”, maka sarung itu adalah sarung milik mereka berdua. Dan, dari situlah timbul niatnya untuk mengawini sang gadis. Namun, ia tidak mempunyai uang untuk melamarnya, sebab ia tidak bekerja alias pengangguran.

Beberapa waktu kemudian, sebelum La Kuttu-kuttu Paddaga sempat mencari uang untuk meminang, tiba-tiba ada seorang pemuda kaya yang telah memiliki pekerjaan datang meminang pada orang tua si gadis. Mendapat pinangan dari seorang pemuda kaya, tentu saja orang tua gadis itu menerimanya dengan senang hati. Sementara si gadis yang akan dikawin sebenarnya merasa tidak suka melihat pemuda itu, sebab ia tidak gagah dan buruk rupa. Namun, karena orang tuanya memaksa, maka ia pun akhirnya mau menerimanya.

Singkat cerita, perkawinan antara si pemuda kaya dengan si gadis penenun pun dilaksanakan. Setelah kawin, karena adat istiadat waktu itu melarang pengantin baru berhubungan intim sebelum empat puluh hari perkawinan, maka mereka tidak boleh tidur sekamar hingga waktu yang ditentukan berakhir. Beberapa hari sebelum masa pantang itu berakhir, si perempuan menyuruh adik laki-lakinya untuk menyembelih seekor ayam. Setelah ayam disembelih, ia meminta bagian tembolok ayam tersebut untuk dibawa ke kamarnya. Tembolok itu kemudian digembungkan lalu dikeringkan dan disimpan di bawah tempat tidurnya.

Ketika adat pantangan berhubungan intim telah berakhir, pada malam hari sang suami mulai masuk ke dalam kamarnya. Saat sang suami mematikan lampu dan ingin melampiaskan nafsunya, cepat-cepat si gadis mengambil tembolok kering dari bawah tempat tidurnya. Tembolok itu kemudian diapitkan di pahanya, sehingga secara samar-samar terlihat seperti alat kelaminnya. Terkecoh melihat “alat kelamin” isterinya yang menjijikkan dan berbau sangat busuk, sang suami menjadi kaget setengah mati. Nafsu birahinya menjadi hilang seketika dan tengah malam itu juga ia pulang lagi ke rumah orang tuanya.

Sesampai di rumah, orang tuanya yang tengah tidur menjadi terkejut. Dan, dengan mata yang masih setengah terbuka, ayahnya bertanya, “Mengapa engkau pulang, nak?”

“Wah, rugi saya kawin, ayah.” Jawab si pemuda.

“Kenapa? Ada apa dengan isterimu?” Tanya ayahnya.

“Maksud saya kawin adalah untuk memperoleh keturunan. Namun, yang saya peristeri hanyalah seorang perempuan yang telah keluar poros.” Jawab anaknya.

Mendengar jawaban itu, ayahnya segera berkata, “Ya, lebih baik kau ceraikan saja isterimu itu!”

“Baiklah. Tetapi saya sudah malu untuk kembali ke sana lagi. Bagaimana kalau ayah saja yang menceraikannya untukku?” tanya si anak.

“Ya, baiklah kalau begitu. Besok pagi aku akan ke sana.” Jawab ayahnya.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali ayah si pemuda sudah berangkat ke rumah besannya. Setelah sampai dan bertemu besannya, tanpa berbasa-basi lagi ia langsung mengutarakan maksudnya. Ayah si perempuan yang sebenarnya sama sekali tidak mengerti duduk persoalannya, namun ia juga tidak ingin berbasa-basi, segera saja menyetujui permintaan talak dari besannya. Dan, saat itu juga terjadi perceraian antara si pemuda kaya dengan si perempuan penenun. Jadi, walau telah menjadi janda, perempuan penenun itu tetap seorang gadis karena belum pernah sekalipun ditiduri oleh mantan suaminya.

Setelah mantan besannya pergi, ayah si perempuan segera memanggil dan memarahinya, “Kau apakan suamimu tadi malam sehingga mertuamu begitu panas hati?”

“Mana saya tahu, ayah. Andaikata ada perkataan saya yang menyakiti hatinya, tentu ayah juga akan mendengarnya sebab kita tinggal serumah. Mungkin memang beginilah nasib apabila seorang isteri sudah tidak disukai lagi oleh suaminya.” Jawab perempuan bersandiwara.

Beberapa waktu kemudian, La Kuttu-kuttu Paddaga mendengar kabar bahwa perempuan idamannya itu telah bercerai. Untuk memastikan kebenarannya, ia pun segera bertandang ke rumah si perempuan. Sesampai di sana, ia segera mendatangi si perempuan yang waktu itu sedang menenun seorang diri. Setelah saling berhadapan, ia langsung menanyakan perihal perceraian yang dialami si perempuan beberapa waktu yang lalu. pertanyaan itu dijawab sejujurnya oleh si perempuan dan akhirnya terjadilah percakapan yang cukup lama diantara mereka. Dalam percakapan itu, si perempuan menjelaskan hal-ihkwal perkawinannya dengan si pemuda kaya dari awal hingga akhir.

Setelah mendapat penjelasan yang sangat lengkap dari perempuan itu, akhirnya La Kuttu-kuttu Paddaga menyatakan ingin mengawininya. Si perempuan pun setuju, namun ia baru bersedia kawin setelah masa idahnya habis, sekitar 3 bulan lagi. Dan, selama masa idah itu La Kuttu-kuttu Paddaga diharapkan oleh sang perempuan untuk mencari uang guna membeli mas kawin. Namun, karena ia sudah berstatus janda, maka jumlah mahar atau mas kawin yang harus disediakan tidak perlu sebanyak apabila ia masih gadis.

Oleh karena jumlahnya tidak seberapa, dalam waktu singkat La Kuttu-kuttu Paddaga sudah berhasil mendapatkan uang untuk membeli mas kawin. Setelah masa idah si perempuan habis, La Kuttu-kuttu Paddaga datang pada orang tuanya dengan maksud untuk meminang anaknya. Dan karena anaknya sudah menjadi janda, orang tuanya pun segera menerima pinangan La Kuttu-kuttu Paddaga tanpa meminta syarat yang bermacam-macam. Singkat cerita, mereka pun kemudian menikah dan hidup bahagia. La Kuttu-kuttu Paddaga merasa bahagia karena telah berhasil mempersunting perempuan pujaannya, walau sudah menjadi janda. Sedangkan si perempuan juga merasa bahagia karena idamannya untuk memperoleh seorang pemuda yang gagah dan tampan telah terwujud, walaupun ia harus kawin dulu dengan seorang pemuda yang buruk rupa.
cerita, kisah, legenda, mitos,alkisah,sejarah,dongeng,2017,2018,2019,2020,2021,2022,2023,2024,2025

Kisah Sipiso Somalim (Nagaisori)


Dahulu kala hiduplah seorang raja di daerah Rura Silindung yang bernama Punsahang Mataniari-Punsahang Mata ni Bulan, Raja yang sangat makmur dan kaya raya. Raja ini mempunyai seorang saudara putri yang bernama siboru Sandebona yang kemudian kawin dengan raja Panuasa dari kampung Uluan.Suatu saat Siboru sandebona mengandung seorang anak laki-laki, akan tetapi setelah genap waktunya bayi ini tidak kunjung lahir, kemudian Siboru Sandebona kebingungan, lalu menemui seorang dukun sakti untuk menanyakan apa yang bakal terjadi dengan anak yang ada di dalam kandungannya. Dusun sakti kemudian memberikan jawaban bahwa bayi ini akan menjadi seorang laki-laki yang memiliki kharisma dan kelebihan tersendiri.

Begitulah setelah lahir, bayi ini diberi nama Sipiso Somalim. Setelah dewasa Sipiso Somalim sudah menunjukkan kelebihan tersendiri dalam kehidupan sehari-harinya. Pada suatu saat dia disuruh orangtuanya untuk membajak sawah dengan menggunakan tenaga kerbau, dia hanya duduk tenang, namun kerbau ini dapat disuruhnya bekerja sendiri untuk membajak sawah itu. Dalam sikapnya terhadap orang-orang sekitarnya, dia sangat sopan dan berbudi baik. Bahkan semua tindak tanduknya mencerminkan sikap seorang anak-raja.

Pada usia sudah matang, Sipiso Somalim tetap saja pada pendiriannya untuk meminang putri pamannya, ibunya tidak kuasa lagi menolak permintaan Sipiso Somalim. Lalu suatu ketika ibunya memberangkatkan Sipiso Somalim yang didampingi seorang pengawalnya yaitu Sipakpakhumal.

Dengan mengenakan pakaian kebesaran serta bekal secukupnya termasuk “Pungga Haomasan” (obat penangkal lapar dan haus), Sipiso Somalim berangkat menuju kampung pamannya Rura Silindungdn menelusuri hutan lebat, dengan jalan yang penuh resiko, seperti ancaman dari binatang buas mereka pun berjalan hingga suatu hari tiba pada sebuah pancuran yang sangat sejuk. Melihat sejuknya air pancuran ini, Sipiso Somalim meminta agar mereka berhenti dan mandi untuk melepas rasa letih. Kemudian dia menanggalkan pakaian kebesarannya dan selanjutnya meminta Sipakpakhumal untuk menjaganya.

Adapun Sipakpakhumal sejak keberangkatannya dengan Sipiso Somalim sudah memiliki niat jahat bagaimana agaar dia dapat berperan sebagai Sipiso Somalim agar selanjutnya dapat memperistri putri Punsahang Mataniari. Maka dengan diam-diam dia mengenakan pakaian kebesaran Sipiso Somalim seperti layaknya seorang raja. Karena asiknya Sipiso Somalim mandi, dia tidak menghiraukan apa yang telah diperbuat Sipakpakhumal tadi. Setelah siap mandi betapa terkejutnya Sipiso Somalim menyaksikan Sipakpakhumal yang telah mengenakan pakainnya, dan sama sekali dia tidak dapat berbuat apa-apa, karena dengan pakaian ini kharisma Sipiso Somalim langsung pindah Sipakpakhumal.

Sipakpakhumal kemudian dengan menghunus pedang, dan suara lantang berkata, “sejak sekarang ini sayalah yang menjadi Sipiso Somalim dan kau menjadi Sipakpakhumal, kita akan terus menuju kampung Pusahang Mataniari dan jangan sekali-kali bicara pada siapapun bahwa aku telah menggantikanmu sebagai Sipiso Somalim, dan apabila hal ini kau ceritakan pada siapapun kau akan kubunuh, mengerti,” . Mendengar semua ini Sipiso Somalim tidak dapat bebuat apa-apa kecuali hanya tunduk serta menerima apa yang terjadi.

Perjalanan pun dilanjutkan dan sejak itu, Sipiso Somalim dipanggil menjadi Sipakpakhumal dan demikian sebaliknya, Sipakpakhumal menjadi Sipiso Somalim. Selama dalam perjalanan, Sipakpakhumal yang sebelumnya adalah Sipiso Somalim tetapmenunjukkan sikap baik pada Sipiso Somalim, dan selama itu pula Sipakpakhumal tidak habis piker bagaimana perasaan ibu yang dia tinggalkan sebab sebelum berangkat dia berpesan kepada ibunya agar ibunya memperhatikan sebatang pohon yang dia tanam di dekat rumahnya, apabila pohon itu layu berarti dia mendapat kesulitan di tengah jalan, dan apabila mati maka dia telah mati diperjalanan.

Setelah berjalan beberapa hari akhirnya mereka tiba di Rura Silindung tempat Punsahang Mataniari-Punsahang Mata ni Bulan. Meilhat Sipiso Somalim datang Punsahang Mataniari terus tahu bahwa dia adalah anak saudarinya yaitu Siboru Sandebona. Lalu dengan langsung dia memeluk Sipiso Somalim meskipun sebenarnya dia memiliki firasat bahwa ada yang kurang beres dengan keponakannya itu, tetapi mereka tidak menunjukkan bahkan memperlakukannya Sipiso Somalim seperti keluarganya sendiri. Adapun Sipakpakhumal yang merupakan Sipiso Somalim yang sebenarnya tetap diam dan tidak berani berbuat apa-apa dan dia diperlakukan sebagai layaknya seorang pembantu. (Bersambung) Sipiso Somalim (Nagaisori)

Lama kelamaan Sipakpakhumal yang mengaku sebagai Sipiso Somalim makin menunjukkan sikap yang kurang baik terhadap keluarga pamannya maupun kepada Sipakpakhumal. Sebagaimana tujuan keberangkatan Sipiso Somalim untuk meminang putri pamannya, suatu ketika dia menyampaikan hasrat tersebut kepada pamannya. Akan tetapi untuk sementara, pamannya menolak dengan cara halus dengan alasan agar jangan terburu-buru dulu. Semua ini tentu karena pamannya makin hari makin curiga terhadap Sipakpakhumal yang mengaku sebagai Sipiso Somalim.

Rasa gelisah tetap menyelimuti hati ibu Sipiso Somalim, di kampung halaman, lalu kemudian dia kembali mengirimkan seekor kerbau yang bernama “Horbo Sisapang Naualu”. Ketika kerbau ini sampai Punsahang Mataniari memanggil Sipiso Somalim untuk mengiring kerbau ini kekandang. Akan tetapi saat dia mendekat kerbau ini mengamuk dan hampir menanduk Sipakpakhumal. Dengan kejadian ini, Punsahang Mataniari semakin menyadari bahwa ada yang tidak beres diantara Sipiso Somalim dan Sipakpakhumal. Kemudian Punsahang Mataniari memanggil Sipakpakhumal untuk mengiring kerbau tadi. Pada saat Sipakpakhumal mendekat, kerbau ini langsung mendekat seperti bersujud.

Kedatangan kerbau ini, bagi Sipakpakhumal mengetahui bahwa itu sengaja dikirim oleh ibunya dari kampung halaman. Sehingga pada saat dia menggembalakan kerbau ini di sawah dia membuka tanduk kerbau ini ternyata di dalamnya terdapat berbagai jenis alat musik dan perhiasan kerajaan sementara kerbau ini membajak sawah, dia memainkan alat-alat musik tadi sehingga karena merdunya segenap burung yang terbang diangkasa turut bernyanyi ria.

Pada siang hari, datanglah putri Punsahang Mataniari untuk mengantar makanan Sipakpakhumal. Setelah dekat, dia sangat terkejut mendengar musik yang sangat merdu yang diiringi oleh nyanyi ria yang banyak bertengger diatas dahan, ternyata yang memainkan musik ini adalah Sipapakhumal. Lebih terkejut lagi, pada saat dia memperhatikan bahwa kerbau tersebut membajak sawah tanpa digembalakan Sipakpakhumal.

Dengan rasa gugup dan ketakutan, Sipakpakhumal menerima makanan itu dari putri Punsahang Mataniari, dasar curiga, putri Punsahang Mataniari pamit seolah-olah pulang ke rumah akan tetapi dia bersembunyi dibalik sebuah pohon besar untuk mengamati dari dekat tindak tanduk Sipakpakhumal. Sipakpakhumal merasa bahwa putri Punsahang Mataniari sudah jauh lalu diambilnya nasi tersebut dan ditaburkannya untuk makanan burung yang semuanya mengelilingi Sipakpakhumal. Kemudian dia merogoh kantongnya dan mengambil sebuah benda kecil yang disebut “pungga haomasan”.

Pungga haomasan ini kemudian dicium dan dijilat lalu seketika itu dia kenyang sebagaimana layaknya makan nasi. Pungga haomasan ini diberikan ibunya saat dia berangkat dahulu dan sampai saat itu tetap berada ditangannya. Sehingga selama ini pun Punsahang Mataniari sebenarnya juga curiga karena pengetahuannya Sipakpakhumal tidak pernah makan tetapi tetap mengaku kenyang. Menyaksikan semua apa yang terjadi putri Punsahang Mataniari cepat-cepat menemui dan memberitahukan apa yang dia saksikan kepada ayahnya Punsahang Mataniari, dan ayahnya pun semakin yakin bahwa Sipakpakhumal yang dijadikan pembantu adalah Sipiso Somalim yang sebenarnya.

Sementara itu, Sipakpakhumal yang mengaku Sipiso Somalim semakin mendesak pamannya agar dia dikawinkan dengan putri pamannya. Hingga pada suatu ketika, pamannya mempertanyakan kepada putrinya yang paling sulung agar berkenan menerima Sipakpakhumal yang mengaku sebagai Sipiso Somalim menjadi suaminya akan tetapi dia menolak permintaan itu. Kemudian Punsahang Mataniari menawarkan kepada anak perempuannya nomor dua dan ternyata putrinya itu mau. Lalu malalui upacara adat mereka dikawinkan.

Putri sulung Punsahang Mataniari meminta kepada ayahnya untuk menggelar upacara dengan membunyikan seperangkat musik dan mengundang semua pemuda yaitu anak raja-raja yang berada disekeliling kampungnya. Untuk menari dan dia ingin memilih salah satu dari antara mereka untuk menjadi suaminya. Acara sudah digelar akan tetapi tak satu orangpun dari pemuda itu berkenan di hati putrinya Punsahang Mataniari, namun diluar dugaan, tiba-tiba seorang pemuda menunggang kuda dan berpakaian kerajaan tiba-tiba muncul dipesta itu, semua orang tercengang dan seketika itu pula pemuda itu meninggalkan pesta itu.
Dengan kehadiran pemuda itu, sang putri mengatakan kepada ayahnya bahwa dia sangat tertarik kepada pemuda tersebut dan meminta kepada ayahnya agar dia menyuruh para pengawal untuk mencari asal pemuda tadi. Para pengawalnyapun mengikuti jejak pemuda tadi dan akhirnya mereka tiba pada suatu tempat yaitu tempatnya Sipakpakhumal untuk mengembalakan ternak tuannya. Para pengawalmya heran sebab ada tanda-tanda bahwa Sipakpakhumal lah lelaki yang baru saja hadir di pesta itu, karena sesaat setelah Sipakpakhumal berada di gubuknya lalu ia menukar pakaiannya seperti semula dan pakaian kebesaran itu adalah pemberian ibunya yang dikirimkan melalui kerbau itu dan setelah dia sampai dipondoknya, pakaian kebesaran itupun ditanggalkan dan memakai pakaian biasa.

Para pengawal kemudian kembali dan melaporkan kepada Punsahang Mataniari bahwa mereka telah tidak menemukan jejak pemuda itu. Dengan hati tidak sabar, Punsahang Mataniari kemudian memangil si Piso Somalim serta bertanya apa yang pernah terjadi antara mereka berdua. Karena Punsahang Mataniari mengancam akan membunuh apabila dia bohong maka Si Piso Somalim mengaku dengan terus terang apa yang telah dia lakukan terhadap Sipakpakhumal sehingga Sipiso Somalim yang sebenarnya akhirnya dijadikan sebagai Sipakpakhumal dan demikian juga sebaliknya.

Dengan perasaan berang sebenarnya ingin menghukum Sipakpakhumal ini, akan tetapi karena Punsahanng Mataniari sadar bahwa Sipakpakhumal telah terlanjur menantunya sehingga dia tidak dapat berbuat apa-apa.Begitupun karena Sipakpakhumal menyadari kesalahannya dan merasa hidupnya akan terancam, besok harinya pada pagi-pagi buta dia melarikan diri beserta istrinya yang menurut cerita berangkat menuju Sumatera Timur.

Pada kedua kalinya, atas permintaan putri Punsahang Mataniari, kembali digelar acara adat dengan membunyikan seperangkat alat musik, dan pada saat acara berakhir tiba-tiba seorang pemuda dengan menunggang kuda “Siapas Puli” kembali hadir setelah menari-nari sejenak akhirnya menghilang. Baik Punsahang Mataniari maupun putri sulung menganggap bahwa yang datang itu adalah Sipiso Somalim yang sebenarnya dan yang selama 7 tahun telah terlanjur mereka jadikan sebagai pembantu dan semua ini adalah atas ulah dari kebohongan Sipakpakhumal yang selama ini mengaku sebagai Sipiso Somalim.

Maka pada saat itu juga, Punsahang Mataniari memerintahkan para pengawal untuk menjemput Sipakpakhumal dari tempatnya dan membawanya terhadap Punsahang Mataniari. Pakpakhumal sebenarnya apa yang terjadi dan sebelumnya dia menolak untuk menemui Punsahang Mataniari akan tetapi setelah dibujuk akhirnya diapun mau.

Pertemuan dengan Punsahang Mataniari beserta seluruh keluarganya sangat mengharukan. Pada saat itu akhirnya Sipakpakhumal yang sebenarnya adalah Sipiso Somalim menceritakan semua yang terjadi sejak diberangkatkan Ibunya 7 tahun yang lalu akhirnya mendapat malapetaka atas ulah licik Sipakpakhumal yang sebenarnya. Pada saat itu pamannya menyampaikan maaf yang sebenarnya atas apa yang terjadi selama 7 tahun ini.

Suasana pun berubah, suatu saat pamannya mengutarakan bahwa mereka memiliki hasrat untuk menjadikan Sipiso Somalim sebagai menantunya. Pada awalnya Sipiso Somalim menolak akan tetapi setelah dia pertimbangkan masak-masak akhirnya dia terima dan pesta perkawinanpun dilaksanakan dengan menggelar upacara adat.

Sipiso Somalim akhirnya menikah dengan putri pamannya sesuai dengan keberangkatannya untuk menemui pamannya Punsahang Mataniari 7 tahun yang silam dan pada suatu waktu dia beserta istrinya meninggalkan Rura Silindung dan kembali menemui Ibunya di kampung halamannya yaitu Kampung Uluan.
http://folktalesnusantara.blogspot.com
cerita, kisah, legenda, mitos,alkisah,sejarah,dongeng,2017,2018,2019,2020,2021,2022,2023,2024,2025

Kisah Bolampa Yang Sakti


Pada zaman dahulu kala, di Desa Pulu Mempa hidup seorang anak bernama Bolampa. Ia adalah anak Raja Pulu sedangkan ibunya adalah puteri dari raja yang berada di kerajaan seberang lautan. Oleh karena Raja Bulu adalah seorang yang amat sakti, maka Bolampa pun secara tidak disadarinya, diberi ilmu kesaktian oleh ayahandanya. Ia menjadi kebal terhadap senjata apa pun dan mempunyai tenaga dalam yang sangat tinggi.

Pada saat Bolampa baru berumur beberapa bulan, Raja Pulu merasa tertarik dan jatuh cinta kepada salah seorang pembantu yang ada di istananya. Ia pun lantas mengawini pembantu tersebut hingga akhirnya mempunyai seorang anak laki-laki lagi yang diberinya nama Paralu.
Semenjak Raja Pulu berpoligami dan menempatkan kedua isterinya dalam satu rumah, maka kehidupan keluarganya menjadi tidak harmonis. Kedua isterinya saling bersaing untuk memperebutkan kasih sayang dari Raja Pulu. Hal ini membuat Raja Palu menjadi tertekan jiwanya dan beberapa tahun kemudian akhirnya meninggal dunia. Waktu raja mangkat tersebut sebenarnya ibu Bolampa sedang mengandung anaknya yang kedua.

Sepeninggal raja, kedua jandanya tetap saja bersaing. Namun persaingannya bukanlah untuk memperebutkan kasih sayang Raja Pulu, melainkan untuk memamerkan keunggulan anak masing-masing dengan tujuan agar salah seorang diantaranya dapat menggantikan ayahnya menjadi raja. Dalam persaingan tersebut ibu Paralu-lah yang berusaha mati-matian agar anaknya dapat menggungguli Bolampa. Hal ini dilakukannya karena ia merasa khawatir sebab kedudukannya hanyalah sebagai isteri muda yang hanya berasal dari golongan rakyat jelata. Di samping itu, ia juga khawatir apabila tidak sedari dini memenangkan persaingan, nantinya Bolampa akan mengungguli anaknya sebab ia akan dibantu oleh adiknya yang saat itu masih berada di dalam kandungan.

Usaha pertama yang dilakukan oleh ibu Paralu adalah dengan membelikan anaknya barang-barang perhiasan yang mahal harganya agar penampilannya terlihat gagah perkasa. Melihat saudara tirinya dibelikan perhiasan mahal, Bolampa menjadi iri dan segera meminta kepada ibunya, “Bu, belikan saya perhiasan yang sama seperti Paralu itu!”

“Anakku, janganlah kau samakan dirimu dengan Paralu. Ia hanyalah anak seorang hamba. Sedangkan dirimu adalah keturunan bangsawan. Jadi, walau tidak memakai perhiasan yang mewah, engkau tetap akan dinilai gagah dan dihormati oleh masyarakat,” jawab ibunya.

Namun, karena masih kecil dan tidak terlalu memahami makna kata bangsawan dan hamba, maka ia pun tetap merengek pada ibunya. Waktu itu yang terlintas di pikirannya hanyalah bagaimana caranya agar ia dapat memperoleh perhiasan yang mewah, sehingga dapat tampil gagah seperti Paralu. Selama tiga hari berturut-turut ia merengek pada ibunya untuk segera membelikan perhiasan yang sama seperti Paralu.

Pada hari keempat, sekali lagi ia meminta pada ibunya untuk dibelikan perhiasan. Oleh ibunya, permintaan itu ditolak mentah-mentah sehingga membuat Bolampa menjadi jengkel dan sekaligus marah. Tanpa berkata-kata lagi Bolampa langsung pergi meninggalkan istana menuju ke Desa Sidiru di daerah Sibolga.

Selama berada di Siduru, kemarahan pada ibunya tersebut ditimpakan kepada teman-temannya. Ketika sedang bermain bersama teman-temannya dan terjadi suatu perselisihan, Bolampa cepat naik darah dan langsung memukul hingga banyak temannya yang tewas. Hal ini terus berlangsung selama beberapa minggu sehingga banyak anak di daerah Sidiru yang mati di tangan Bolampa. Penduduk Sidiru tidak bisa berbuat banyak untuk menghadapi Bolamba, sebab ternyata ia sangat sakti dan kebal terhadap senjata apapun, sama seperti ayahnya.

Melihat kawan-kawannya banyak yang mati dan sekaligus heran kenapa dirinya tidak dapat mati walau ditusuk oleh senjata tajam, maka Bolampa pun ingin merasakan kematian seperti yang dialami oleh teman-temannya. Ia lalu mendatangi segerombolan balaki (wanita yang kelaki-lakian) yang sedang berkumpul di rumah agat (baruga). Kepada kaum balaki yang berjumlah sekitar 70 orang itu, Bolampa berkata, “Hai kaum balaki, sanggupkah kalian membunuhku? Aku sudah ingin mati sekarang!”

Mendengar perkataan Bolampa tersebut, para balaki yang seluruhnya berasal dari Sidiru menjadi gembira. Orang yang selama ini mereka anggap sebagai pengganggu dan telah menewaskan banyak orang di Sidiru akhirnya berkeinginan untuk mati. Salah seorang diantara mereka kemudian bertanya pada Bolampa, “Lalu bagaimana caranya kami dapat membunuhmu? Engkau sangat sakti dan kebal terhadap senjata apapun.”

“Sekarang sediakanlah beberapa puluh buah kelapa dan letakkan di bawah pohon itu. Nanti aku akan meloncat dari atas pohon, dan setelah tubuhku mengenai buah-buah kepala itu kalian dapat langsung membunuhku,” jawab Bolampa.

Setelah buah kelapa disiapkan, maka Bolampa segera memanjat pohon dan melompat ke arah buah-buah kelapa tersebut. Pada saat tubuhnya mengenai buah-buah kelapa, para balaki segera membunuhnya dengan mudah. Setelah itu mayat Bolampa mereka bawa ke istana Raja Sidiru. Raja Sidiru kemudian memerintahkan pada para pengawalnya untuk memotong leher Bolampa dan menggantung kepalanya di tiang baruga (rumah adat). Sebelum digantung di baruga, kepala Bolampa diberi tanduk yang terbuat dari emas.

Pada saat Bolampa sedang meregang nyawa, hati ibunya bergetar hebat. Naluri keibuannya merasakan bahwa telah terjadi sesuatu terhadap anaknya. Oleh karena itu, ia segera menyuruh seorang penjaga istana menyiapkan seekor kerbau yang akan digunakannya sebagai kendaraan untuk mencari Bolampa. Hari itu juga, walau sedang hamil tua, ia berangkat meninggalkan Pulu menuju ke Sidiru.

Setibanya di wilayah Sidiru ia langsung menuju ke rumah Raja Sidiru. Saat melewati baruga yang letaknya tidak jauh dari rumah raja, ia melihat kepala anaknya tergantung di tiang baruga. Seketika itu juga hatinya menjadi hancur dan sangat marah terhadap penduduk Sidiru atas perlakuan mereka terhadap anaknya.

Sesampainya di depan rumah raja, ia langsung berteriak, “Mana Raja Sidiru?”

Mendengar teriakan orang di bawah rumahnya, Raja Sidiru segera turun dan berkata, “Saya Raja Sidiru.”

“Sampai hati kamu membunuh anak saya,” kata ibu Bolampa sambil menahan tangis.

“Anakmu sudah membunuh puluhan orang penduduk Sidiru,” jawab Raja singkat.

“Kurang ajar kamu semua di Sidiru ini. Termasuk kamu rajanya!” kata ibu Bolampa sambil menunjuk muka Raja Sidiru.

Ucapan itu diulanginya hingga tiga kali sehingga Raja Sidiru tersinggung dan mengancam akan membunuhnya. Namun, ancaman itu tidak membuat ibu Bolampa takut, ia malah semakin menjadi-jadi dan tetap mengulangi ucapannya hingga beberapa kali lagi. Raja pun menjadi benar-benar marah hingga akhirnya membunuhnya.

Setelah mati, raja memanggil penjaga baruga untuk menyimpan mayat perempuan yang sedang hamil tua itu dalam sebuah peti yang terbuat dari kayu yang keras. Beberapa hari kemudian, lahirlah bayi laki-laki yang sangat sehat dari rahim mayat tersebut. Bayi itu kemudian dibawa oleh beberapa orang penjaga baruga ke rumah Raja Sidiru.

Oleh Raja Sidiru bayi itu diberi nama Tuvunjagu lalu diserahkan kepada sepasang suami isteri warga Sidiru yang kebetulan sudah tua namun tidak mempunyai anak. Seakan mendapat durian runtuh, sepasang suami-isteri tersebut menerimanya dengan hati yang gembira. Dan, mulai sejak itu Tuvunjagu dirawat dan dibesarkan oleh kedua suami-isteri itu.

Saat usianya 10 tahun Tuvunjagu telah tumbuh menjadi anak yang kuat dan sehat. Dan tanpa disadarinya, ia pun juga mewarisi kesaktian yang dimiliki oleh ayahnya. Selain itu, ia mewarisi pula sifat Bolampa yang mudah sekali marah dan ringan tangan. Ia tidak segan-segan untuk memukul temanya sendiri hingga mati apabila terjadi suatu perselisihan.

Suatu hari, selesai membunuh temannya Tuvunjagu pulang dengan tangan yang berlumuran darah. Ia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Melihat hal itu orang tua angkatnya diam saja karena sudah maklum apabila sifat Tuvunjagu mirip seperti sifat kakaknya. Saat Tuvunjagu mandi, mereka berbincang sejenak mengenai kelakuan anak angkatnya itu dan akhirnya bersepakat untuk mengungkapkan jati diri Tuvunjagu yang sebenarnya setelah makan malam.

Malam harinya, selesai makan malam ibu angkatnya bertanya, “Anakku, pernahkah engkau pergi ke baruga?”

“Ya. Saya sering bermain di sana, Bu,” jawab Tuvunjagu.

“Pernahkah engkau melihat sebuah tengkorak kepala yang digantung di sana?” tanya ibu angkatnya lagi.

“Ya,” jawab Tuvunjagu singkat.

Lalu ibu angkatnya mulai bercerita mengenai asal usul tengkorak kepala yang digantung di baruga itu. Ia bercerita mulai dari kisah Bolampa sampai Tuvunjagu lahir.

“Oh, jadi itu sebenarnya asal usulku, Bu,” jawab Tuvunjagu singkat. Namun, sejak saat itu hatinya dipenuhi rasa dendam yang sangat besar terhadap Raja Sidiru. Ia ingin membalas kematian ibu dan kakaknya yang telah dibunuh oleh Raja Sidiru. Dendam itu lama sekali dipendamnya hingga ia berumur 19 tahun dan telah menjadi pemuda yang gagah perkasa.
Suatu hari Raja Sidiru mengadakan pesta besar. Di dalam pesta itu diadakan tarian secara berpasangan yang dinamakan raego. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Tuvunjagu untuk balas dendam terhadap Raja Sidiru. Ia lalu meminta izin pada Raja Sidiru untuk mengajak puteri sematawayangnya menari raego. Karena raja tidak tahu kalau Tuvunjagu akan berencana membalas dendam, maka ia pun mengizinkan puterinya untuk menari bersama Tuvunjagu.
Setelah itu, mereka pun segera menuju ke arena untuk menari raego bersama-sama penduduk Sidiru lainnya. Pada waktu sebagian orang sedang asyik menari dan sebagian lagi sibuk menikmati hidangan pesta, tiba-tiba Tuvunjagu menghunus pedangnya lalu memotong leher puteri raja itu hingga putus. Kemudian, ia berlari secepat kilat menuju Pulu, desa tempat orang tuanya. Sesampai di Pulu ia segera menuju ke baruga dan menancapkan kepala puteri raja Sidiru di tiang baruga Desa Pulu.

Beberapa saat setelah terjadi pembunuhan, suasana gembira ria berubah menjadi duka cita di kalangan penduduk Sidiru. Pesta pun segera dihentikan. Raja Sidiru langsung mengadakan pertemuan dengan pemuka masyarakat untuk merundingkan peristiwa pembunuhan itu. Dalam perundingan itu ada yang berpendapat bahwa Pulu harus diserang dan dihancurkan. Tetapi pendapat itu ditolak oleh sebagian besar pemuka masyarakat, sebab ketika Bolampa dan ibunya dibunuh, rakyat di Pulu tidak pernah datang dan menyerang Sidiru. Lalu timbul sebuah usul yang baik dan bijaksana agar Sidiru dan Pulu tidak saling berperang dan Tuvunjagu tidak datang lagi ke Sidiru. Usul tersebut adalah menyatukan Sungai Gumbasa dan Sungai Mio yang merupakan daerah perbatasan kedua desa sehingga menjadi lebar. Usulan itu ternyata diterima dengan baik oleh seluruh pemuka masyarakat, sehingga pada pagi harinya seluruh penduduk Sidiru dikerahkan untuk menyatukan aliran Sungai Gumbasa dan Sungai Mio. Dengan begitu, maka orang-orang di kedua desa tersebut akan sulit untuk saling bertemu dan sejak saat itu Tuvunjagu tidak pernah lagi datang ke Sidiru.
http://folktalesnusantara.blogspot.com
cerita, kisah, legenda, mitos,alkisah,sejarah,dongeng,2017,2018,2019,2020,2021,2022,2023,2024,2025

Kisah Puteri Malam - Bangka


Pak Raje sawahnya dimasuki babi. Dia memaksa Sang Penyumpit untuk mau menjaga. Agar Sang Penyumpit tak dapat menolak Pak Raje mengatakan bahwa pekerjaan ini sebagai ganti membayar utang ayahnya yang sudah almarhum. Sang Penyumpit tak dapat menolak demi untuk melunasi hutang ayahnya dan inilah tanda ia berbakti kepada orang tua. Sang Penyumpit bekerja keras siang malam demi membela nama baik orang tuanya.

Sampai diladang ia pun membakar kemenyan minta restu dewa-dewanya, tak lupa ia memuja mentemau (dewa babi) agar suka menolongnya supaya babi-babi jangan dilepaskan memakan ladang Pak Raje. Jika malam telah menyungkupi alam ini, sunyi senyaplah perladangan itu, merondalah Sang Penyumpit kesegenap pojok ladang. Tiga malam belum kejadian apa-apa, demikianlah hingga tujuh malam berlalu. Siang hari ia harus bekerja di ladang menuai padi dan malam hari harus pula jaga hingga tubuhnya merasa lemas dan pucat. Kadang-kadang ingin ia beristirahat tapi mengingat ancaman Pak Raje terpaksa ia terus berjaga-jaga.

Kerja keras Sang Penyumpit diberi imbalan yang baik. Ketika babi memasuki sawah ia sempat menombak dan mengenai seekor babi. Ingin tahu Sang Penyumpit menelusuri ke mana babi itu lari lewat darah yang bercucuran. Tiba di sebuah desa dalam rimba itu ia akhirnya mengetahui yang terkena seorang puteri. Ibu puteri itu minta kepada Sang Penyumpit menyembuhkan sakit puteri. Sang Penyumpit menolong puteri yang sakit. 

Didekatinya gadis yang sedang sakit itu, dibukanya selimut yang menutupi kakinya. Sang Penyumpit meneliti tampak olehnya suatu benda hitam mencuat, sedikit ditelitinya betul-betul nyatalah bahwa itu mata tombak. ”Bik, kuminta agar disediakan buluh seruas panjang sehasta, daun keremunting yang sudah ditumbuk banyaknya secupak”, kata Sang Penyumpit kepada ibu gadis itu……..
……………dicabutnya mata tombak yang terhunus , ….luka bekas cabutan ditutupinya dengan daun keremunting untuk penahan darah yang keluar.
Besok tentu ia sudah bisa berjalan-jalan kembali….

Ketika Sang Penyumpit akan pergi meninggalkan desa puteri itu. Sang Penyumpit yang telah menolong menyembuhkan puteri yang sakit diberi hadiah.:
……tetapi sebelum anak pulang paman mau menyiapkan oleh-oleh guna kau bawa ke duniamu.
Inilah oleh-oleh dari dunia kami, ini bungkusan kunyit, ini bungkusan buah nyatoh, ini daun simpur, ini buah jering. Tapi kempat bungkusan ini jangan anakku buka sebelum sampai ke rumah. Supaya anak tidak mendapat kesulitan di jalan bakarlah dulu kemenyan ini.

Selanjutnya ketika oleh-oleh itu dibuka dirumah Sang Penyumpit ternyata isinya bukan kunyit dan jering tetapi perhiasan emas, pemata intan berlian. Sejak itu tersiar kabar bahwa Sang Penyumpit telah menjadi kaya raya. Hutang ayahnya kepada Pak Raje pun segera dilunasi.
Mendengar pengalaman Sang Penyumpit yang akhirnya menjadi kaya raya, Pak Raje pun ingin meniru. Tapi sial ketika Pak Raje mengikuti jejak Sang Penyumpit. Setelah mengobati anak gadis yang kena tombak itu Pak Raje tertidur. Ketika bangun ia diserang berpuluh-puluh ekor babi yang besar-besar. Tubuhnya disobek-sobek. Berita ini tersiar di desa Pak Raje. Puteri tua Pak Raje menyampaikan nasib ayahnya kepada Sang Penyumpit. Mendengar kabar ini Sang Penyumpit ingin segera menolong lebih-lebih ia sudah mengenal desa itu.
 
Dewa Matemau mengetahui bahwa anakku seorang yang jujur. Karena kejujuranmu itu, anakku dianiaya ataupun ditipu oleh sebangsamu di duniamu sendiri. Sebat itulah Matemau pada mulanya melarang adik-adikmu ke tempat buah-buahan yang enak di ladang Pak Raje, kemudian Matemau memerintahkan supaya adik-adikmu datang lagi ke ladang. Kami bertanya mengapa Matemau memerintahkan demikian? Katanya cucuku Sang Penyumpit harus ditolong karena dia sendiri ditipu oleh Pak Raje. Bagaimana caranya Sang Penyumpit menolong Pak Raje sehingga tubuhnya tak tersobek-sobek lagi dan hidup kembali? Sang Penyumpit menggunakan 7 helai daun. Lalu dia membakar kemenyan lalu menyebut, ada tangan, ada kaki. Semua anggota tubuh Pak Raje disebut. Terakhir diucapkan Pak Raje.

Dalam asap mengepul Sang Penyumpit membacakan manteranya lalu tampak Pak Raje berusaha duduk. Dia tampak menggosok-gosokkan matanya.
Pak Raje yang telah insaf dan mengaku bersalah:
” Marilah kita pulang Sang Penyumpit segala kesalahankku kepadamu dan kepada rakyat segera kuminta maaf. Sesudah itu engkau kukawinkan dengan si Bungsu lalu aku akana mengundurkan diri, engkaulah akan menggantiku. Marilah kita pulang agar kabar gembira ini segera kita laksanakan”.
Sesuai dengan janji Pak Raje pada saat yang telah ditentukan puteri Bungsunya dinikahkannya dengan Sang Penyumpit. Jabatan sebagai kepala desa pun diserahkan kepada menantunya yang baik hati itu. Selanjutnya kedua insan yang baru menjadi suami isteri ini hidup berbahagia.
http://folktalesnusantara.blogspot.com
cerita, kisah, legenda, mitos,alkisah,sejarah,dongeng,2017,2018,2019,2020,2021,2022,2023,2024,2025